Belajar Dance Movement Therapi sebagai Trauma Healing

8:12 PM


Beberapa saat lalu saat jalan-jalan ke tuk-tuk untuk sebuah kegiatan, di kegiatan ini Manusia abu-abu berkenalan dengan salah seorang perempuan keren yang kesehariannya sekarang katanya Jualan Kopi, tapi diluar itu ternyata Teh Dewi Nova juga seorang consellor dan juga seniman. Dalam project tersebut selama sehari saya belajar sebuah metode konseling diri melalui gerakan-gerakan dan tari yang dinamakan Dance Movement Therapy (DMT).
Dari  cerita Teh Nova, bahwa DMT sendiri dikembangkan oleh  kelompok Kalkota Sanved di India sejak tahun 2004. Dimana melalui gerakan-gerakan dan juga tarian metode ini diharap mampu untuk mengenali kerentanan diri terhadap potensi gangguan kesehatan mental, mengenali potensi diri untuk memulihkan kesehatan menntaldan kehidupan sosial, dan merawat kesehatan mental secara kolektif bersama dengan kelompok atau komunitas, khususnya bagi korban-korban kekerasan, persekusi dan kelompok minoritas.

Tahap dalam DMT yang saat itu yang kami jalani :
·         dimulai dengan pemanasan dengan musik-musik yang berirama slow yang dipandu oleh salah satu peserta saat itu yang berkisar 25 orang kemudian diikuti oleh peserta lainnya.
·         Ground Movement, Ground movement adalah gerakan yang berfokus pada ujung kaki hingga pinggang, pada tahap ini peserta mengambil tempat atau ruang senyaman peserta tanpa harus bersinggungan dengan peserta lain kemudian mengikuti alunan musik dan bergerak bebas, yang perlu ingat adalah folus gerakan pada pinggang sampai ujung kaki. Tujuan dari gerakan ini adalah sebagai akar atau kekuatan pijakan diri sendiri lalu ditutup dengan tarik nafas dan cek feeling.  (tarik nafas dan cek feeling dilakukan hampir di setiap tahap nantinya untuk menetralkan pernafasan, juga mengecek kondisi tubuh agar selalu menyesuaikan gerakan dengan kondisi mental dan fisik tubuh).
·         Centre Movement, centre movement adalah berakan yang berpusat pada bagian tengah, mulai dari dada sampai pada pangkal paha dan bokong. Bagian ini merupakan pusat dari segala organ manusia juga bagian penting dari seksualitas manusia. lalu diakhiri dengan pernapasan dan juga cek feeling.
·         Queer/ Queen / King / three Movement, adalah gerakan yang berpusat pada bagian dada ke atas. Gerakan ini merupakan gerakan untuk memimpin dan mengarahkan karena gerakan ini berada di bagian atas dan merupakan bagian yang mengontrol semua bagian tubuh. Setelah itu kembali melakukan pernafasan dan juga cek feeling. 
·         Selanjutnya melakukan pendinginan sejenak sebelum memasuki ke tahap berikutnya.

Pada tahap berikutnya peserta mencoba untuk mengenali kerentanan diri, dan juga kekuatan serta harapan. Pada tahap ini peserta di minta untuk menyusuri garis yang telah dibuat oleh kak dewi selaku konselor, didalam garis ini terdapat beberapa kartu yang secara garis besar dibagi dua dimana menjadi kerentanan dan yang lain merupakan kekuatan dan harapan. Saat melewati tiap garis diharap tiap peserta merefleksikan juga mengekspresikan apa yang menjadi kerentanan dan dari tiap peserta. Pada tahap ini memang menjadi suatu kerentanan sendiri dalam tahap penyembuhan trauma karena peserta harus mengingat kembali hal-hal buruk dan rentan pada dirinya. Uniknya beberapa peserta yang mencoba mengalami kelelahan mental karena harus berhadapan dengan kenangan sambil mengekpresikannya hal-hal tersebut . tahap ini juga mampu memetakan apa yang menjadi masalah dan keinginan tiap peserta dalam hidupnya. Latihan ini sangat personal karena tiap orang mengalami permasalahan dan trauma yang berbeda. Dan pemetaan kartu dapat dilakukan dengan bervariasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. 

Setelah melewati tahap yang cukup berat dengan sesi jalur penuh emosi. Lalu pendinginan dan cek feeling. Peserta kemudian berlatih untuk melindungi diri sendiri dengan berlatih membuat border diri sendiri. karena manusia sesungguhnya harus memiliki zona untuk dirinya sendiri, sehingga dia mampu untuk melindungi dirinya sendiri, dan untuk dirinya tanpa diganggu orang-orang lain bahkan orang terdekat. Latihan ini dilakukan berkelompok dengan bergantian, dimana peserta yang bertahan membuat bordernya sendiri sebatas mana orang lain boleh mendekatinya, dan peserta bertahan boleh berekspesi sesuka hati saat batasnya di dekati orang lain, baik itu berteriak, isyarat, atau menghindar.
Pentingnya membuat border sendiri, juga harus berkompromi dengan situasi, adakalanya kira bergerak dalam kelompok untuk itu maka kemudian peserta belajar untuk bekerja sama dan berdempetan dalam sebuah payung. Dari aktifitas ini peserta kemudian belajar bagaimana pentingnya juga bertahan dalam kelompok.
Pada sesi berikutnya, Teh Dewi mengajak kami untuk mencintai diri sendiri sambil berkhayal. Pada sesi ini, kami diajak berkhayal untuk menjadi sesuatu yang kami khayalkan, bisa apa saja, binatang, benda, atau bahkan karakter tertentu. Lalu kami diminta untuk berkhayal dan bergerak dan berekspresi bagaimana jika kami marah sebagai bentuk khayalan kami, lalu kemudian kami di minta untuk menjadi sesuatu yang damai dari bentuk khayalan kami. Saya yang saat itu berkhayal menjadi landak berimajinasi sebagai landak yang marah yang menatap marah siapa saja yang mendekat sambil mengancam dengan duri-duri, kemudian saya menjadi landak yang damai yang berdiam diri dalam sarangnya dengan damai.
Tahap berikutnya adalah belajar mencintai diri sendiri, dengan menyentuh diri senyaman mungkin. Perlu di jelaskan bahwa pada tahap ini tidak terlalu disarankan ubtuk orang-orang yang merasa tidak nyaman menyentuh diri sendiri. di tahap ini kita diminta untuk mengambil posisi senyaman mungkin kemudian memeluk diri sendiri, bercengkrama dengan diri sendiri sambil berterima kasih kepada diri sendiri atas segala hal baik dan buruk yang telah diterima, dan berterima kasih kepada diri sendiri karena selalu ada.
Tahap akhir dari sesi ini adalah peserta bersama sama melarung, di tahap ini peserta bersama-sama ke sungai juga danau kemudian menghanyutkan sesuatu (bisa daun, batu, atau apapun) sebagai representasi segala emosi buruk dan kenangan buruk, sehingga peserta diharap mampu menyembuhkan dan menerima segala trauma yang diterimanya dan menjadi bagian baik dari dirinya.
Melarung- Momen melepas segala emosi dan perasaan negatif ke Danau Toba

 Event saya berkenalan dengan Teh Dewi Nova ini merupakan sebuah acara Trauma Healing dari Cangkang Queer terhadap kelompok-kelompok minoritas yang masih sulit diterima dan tidak jarang menerima persekusi juga perlakuan buruk dari masyarakat. Dengan adanya trauma healing ini di harap teman-teman peserta mambu menyembuhkan diri dari trauma dan mampu membagi pengetahuannya dan pengalaman sebagai bagian dari sendiri juga mencintai serta menerima diri sendiri dan juga kelompok.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments