Thea

11:37 PM


ANTI DAN THEA

“Kalau engga ada surga, neraka, atau pun karma, masihkah kau mengikuti perintahNya?’ demikian pertanyaan yang pernah diajukan Thea pada Anti saat dia mengaku tentang pandangannya dan idologinya.
“Jawaban itu engga akan memuaskan dengan logika” jawab Thea. “harusnya kepatuhan terhadap agama didasari terhadap logika-logika dan empati” . Entah sudah berapa kali KInAnti dan thea berdebat masalah seputar perintah tuhan dan logika. Thea selalu menemukan logika berfikir mengapa setiap perintah Tuhan ada untuk kebaikan. Bukan semata kepatuhan. Heran rasanya bagaimana seorang agnostic masih bisa membantu Anti untuk mengerti setiap aturanNya. Sedangkan Anti sendiri sering mempertanyakan banyak aturan yang menurutnya tak sesuai dengan banyak pandangannya.
Anti berkenalan dengan Thea sekitar dua tahun lalu. Mereka  belajar di kampus yang sama hanya saja di jurusan berbeda. Thea sering mengisi kolom opini dan juga beberapa artikel dalam pers kampus dengan opini-opini yang cukup berani. Sedangkan Anti sendiri, adalah salah satu dari redaksi majalah tersebut.
“Gila ya, ahli agama rendahin manusia banget, dikira istri boneka apa?” racau Thea sesaat setelah Anti keluar dari mushalla. Sebagai seorang agnostic Thea terlalu sering duduk di mushalla hanya untuk menunggu ibadah Thea, bahkan cukup sering mengingatkan Anti di waktu-waktu ibadahnya.
“kenapa? Kasus suami yang memperkosa Istri kemarin?”. Tanya Anti saat menyamperi Thea yang sedang memeriksa laporan pendampingan yang sedang ditangani LBH tempatnya magang. “kan emang ada perintah agama buat mematuhi perintah suami, dan ‘melayani’ suami ibadah”. Jawab Anti ringan, “ya walau aku engga setuju sih sama fatwa-fatwa tersebut”.
“Ya, busuk aja rasanya ada seorang ahli agama yang komentar begitu di media masa nanggapin kasus beginian” jawab nya “Aku yakin Nabi, Budha atau siapapun panutan tiap agama, adalah orang yang lembut terhadap perempuan, dan menghormati hak-hak perempuan bukannya memaksa syahwatnya dengan dalil-dalil agama”, tangan Anti menarik tangan Thea untuk berdiri dan pergi meninggalkan pelataran kampus.  Tangan mereka terus bergandengan sampai tiba di parkiran.
Anti mengagumi thea dengan segala opini dan logikanya, perkenalan pertama mereka dalam sebuah seminar diskusi,  Thea menyampaikan opini dengan jelas tanpa ada ketakutan padalah banyak orang-orang yang cukup kontra dengan pemikirannya, tapi dengan segala referensi yang dia sampaikan Thea mampu menerima aplaus dari pengunjung lain atas segala opininya. Padahal usia mereka sama, tapi entah apa yang di lahap Thea hingga kepalanya penuh dengan referensi yang mampu mempertahankan segala opininya.
Setelah acara selesai Anti  menawari Thea untuk menulis sebuah artikel tentang tema seminar yang baru saja mereka bahas, dari sana Anti mulai menjalin komunikasi rutin dengan Thea. Anti mulai mengagumi thea, mulai dari tulisan-tulisannya sampai pada diskusi-diskusi kecil yang mereka lakukan di secretariat persma atau di kantor.
Anti betah mendiskusikan apapun dengan Thea, mulai dari makanan, pakaian, politik bahkan agama. Thea begitu terbuka tentang banyak hal, bahkan tentang hal-hal yang tabu dibahas dalam ruang publik, Thea malah senang mengomentari hal-hal tersebuut dengan jujur dan terbuka. walau penamilannya sangat biasa, hanya dengan kaos, kemeja flannel yang terbuka juga celana denim plus sepatu converse biru yang tak pernah lepas, juga model rambut sebahu asimetris. Thea juga suka berbicara tentang fashion, tak jarang Anti menanyakan tentang outfit yang dipakainya. Walau tak banyak mengubah gaya busananya yang memang casual trendi, tapi diam-diam dia ingin menarik perhatian Thea, walau Anti tahu Thea tak pernah mempermasalahkan apapun yang dikenakannya.

………
“Kamu kan punya agama, kenapa malah jadi agnostik coba?!”. tanya Anti pada suatu saat merasa penasaran saat mereka makan di sebuah café yang tak terlalu jauh dari kantor magang Thea.
“Aku dididik dalam lingkungan yang sangat agamis, jika kamu tanya tentang hukum-hukum agama tanya aja. Aku juga belajar di psantren selama masa menengah pertama. Bahkan penampilanku juga kayak kamu dulu, dengan hijab yang engga pernah lepas tiap keluar rumah” Thea diam sejenak, kemudian melanjutkan “Saat kelas dua menengah atas, kedua orang tua aku meninggal, orang tua aku adalah tipe orang yang engga cuma ngajarin anaknya agama karena perintah agama, tapi lebih dari itu mereka mengajarkan cara berfikir yang buat anak-anaknya berfikir bahwa apa yang kamu lakukan di dunia merupakan kebaikan dan warisan untuk dunia. Ayah dulu selalu bilang kalau surga cuma bonus atas apa yang kita lakukan di dunia.  Hal-hal yang kayak gitu yang aku engga pernah dapat di pesantren, ataupun di sekolahan. Tapi kemudian ayah dan ibu meninggal, dalam sebuah insiden oleh orang-orang yang membunuh atas nama Tuhan.
Sejak saat itu aku mengalami pergolakan batin menanyakan segala hal tentang Tuhan, dan juga menanyakan kembali tentang segala ajaran-Nya. Lalu aku berhenti begitu saja, menamai Tuhan tanpa meninggalkan segala ajarannya, aku masih puasa, zakat, karena aku tau manfaatnya, hanya aku tidak beribadah aja dengan cara-Nya. Dari situ juga aku ngerasa bebas dari kefanatikan dan merasa lebih bisa menghargai orang lain tanpa harus menghakimi.
“Maaf ya” sebuah rasa bersalah keluar dari wajah Anti, ada rasa takut dalam hatinya bahwa pertanyaannya akan membuka kembali luka-luka kehilangan Thea.
“Untuk? “.
“Udah ingatin kamu tentang orang tua kamu” . aku beneran engga tau kalo orang tua kamu udah engga ada”.
“Engga apa Ti, aku percaya kini orang tua aku udah dapat bonus dari yang dia lakuin di dunia”.
Hujan mulai turun membasahi bumi saat malam semakin larut, Anti dan Thea telah menyelesaikan menu makan malam mereka, thea merasa sedikit tidak enak atas topik yang menyangkut masa lalu Thea. Hatinya masih sedikit takut jika Thea kemudian menjauhinya.
“Ea, kamu nginap di kosan aku aja ya? hujan gini”. sebuah senyuman Thea menjawab pertanyaan sederhana.
…..
Diantara rintik hujan Thea menikmati secangkir teh di balkon atas kamar Anti, Anti menyusul dari kamarnya dengan secangkir kopi dan duduk di samping Thea. Entah berapa lama mereka saling diam, Thea hanya melihat kearah hujan dan jalanan, sedangkan Anti, tanpa Thea sadari sedang memandangnya dengan penuh pertanyaan.
Cup’ sebuah kecup mendarat di pipi Thea, mengagetkannya. Dilihatnya kearah pelaku yang telah menempelkan bibirnya ke pipi Thea. Anti wajah Anti sangat dekat dengan pandangan penuh arti, sambil menggigit bibir bawahnya, rambutnya yang terurai basah membuat suasana semakin berbeda. Lalu Anti kembali mundur dan mengambil kembali cangkir kopinya.
“Kamu engga marah?”. Tanya Anti
“Marah kenapa?”
“Karena aku suka kamu”.
“Aku engga akan marah hanya karena kamu suka sejenis, setiap orang bebas sih mau suka ke siapa”. Thea kemudian mengubah posisi duduknya dan mulai merebahkan kepalanya ke dada Anti yang masih dalam posisi duduk.
“Ti, kamu tau tugas manusia di bumi sebenernya apa”
“Beribadah kepada tuhan!?”
“Begitu sih katanya, tapi bentuk beribadah itu dalam banyak hal, dalam  banyak interaksi menjaga bumi itu sendiri, juga semua isinya, temaksud menjaga hubbungan dengan manusia lainnya. Padalah bumi tidak perlu manusia, tapi manusia perlu merawat bumi untuk mereka sendiri, manusia tidak bisa merawat bumi sendiri, lalu manusia berkembang biak, kemudian muncul aturan pernikahan, dimana hanya laki-laki dan perempuan yang boleh menikah, agar manusia tetap mampu merawat bumi untuk mereka sendiri, maka pernikahan sejenis itu dilarang”.
“Tapi manusia terus berkembang dan menjadi serakah terhadap bumi, mereka ingin menguasai bumi yang terbatas, tapi tak mampu merawat bumi, akibatnya sumberdaya bumi semakin terbatas, dan hubungan antara manusia dengan manusia lain juga semakin buruk. Lalu manusia berperang saling serang, menciptakan kiamat mereka sendiri”. Thea diam sejenak.
“Lalu?”   
“Di beberapa daerah dimana homoseksualitas diterima tampak lebih tenang, dengan penerapan hukum dan aturan ketat, manusia terlihat lebih damai. Manusia saling menghargai satu sama lain tapi manusia di daerah tersebut mengalami masalah lain. Natalitas mereka semakin menurun dari tahun ketahun. Keduanya mengalami kiamat masing-masing. Kiamat yang tak dapat dihindari. Jika harus memilih aku akan memilih kiamat kedua. Semu, tapi tenang.”
Anti kembali menatap Thea yang bersandar didadanya, Thea menatapnya, ada suatu desir yang menarik wajahnya mendekati wajah Thea, tapi kemudian dia berhenti. Bulir-bulir keringat sedikit mengucur dari wajah Thea, ada raut cemas disana.
“Ea, kamu sakit?” tanya Anti.
Thea kembali menutup matanya daan tersenyum, “Engga apa-apa, aku sedang membiasakan diri aja”
“kenapa?”
“Aku engga pernah nyaman dengan interaksi sentuhan dan pandangan kayak tadi”
“kamu…..” senyum tersungging di wajah Anti, dia mengerti dan hanya mengusap kepala Thea. Anti tak meneruskan, hanya ingin Thea nyaman disisinya.

  • Share:

You Might Also Like

1 Comments