Review Film : 27 Steps Of May

7:33 PM

Sejak awal April 2019, ada satu film yang sangat ditunggu oleh penggemar film seluruh dunia, termaksud di Indonesia. Ya, tak lain tak bukan itu ada lah Marvel Avenger End Game. Film yang dikatakan menjadi ending dari generasi pertama MCU (Marvel Cinematic Universe). Di Indonesia sendiri Hype nya sangat terasa juga, terbukti di banyak bioskop dimonopoli oleh End Game, bahkan sampai ada yang buka sampai 24 Jam dan diputar sejak pukul 5 dini hari di premiernya 24 April. Saya sendiri berkesempatan menonton film tersebut di tanggal 26 April, dan memang sepantasnyalah film ini ditunggu.
Tapi saya tidak akan bercerita tentang Film End Game kali ini, karena disaat kehebohan End Game sedang mendunia, ada dua film lokal berkelas festival internasional yang ternyata saat ini juga jadi perbincangan. Yang pertama adalah “Kucumbu Tubuh Indahku”, sebuah film karya Garin Nugroho. Kedua , adalah “27 Steps of May” karya Ravi Bharvani. Film pertama telah ditarik dari kota Medan, entah karena tidak laku atau seperti kota lain yang di anggap terlalu kontroversial, dan karena tak ingin ketinggalan film kedua, saya akhirnya memutuskan untuk menonton film ini.
Sebenarnya niat buat nonton film ini sudah direncanakan sejak tanggal 27 April saat diadakannya kegiatan nonton bareng oleh Cangkang Queer, salah satu lembaga yang concern pada issu ham dan Gender. Sayang saya tidak dapat hadir karena pada saat yang sama saya masih menjadi volunteer untuk Europe On Screen, sebuah festival film-film eropa yang di tayangkan di delapan kota di Indonesia termaksud Medan. Nah, untuk Medan sendiri diadakan pada 22-28 April di Grand Aston. Kesempatan buat menonton film 27 Step of May akhirnya tiba pada tanggal 29 April.


(Spoiler Allert) 27 Step of May dibuka dengan adegan May (Raihanun), gadis ceria yang saat itu masih menggunakan seragam putih biru, yang bermain pada pasar malam. Tak lama, pada menit berikutnya May ditarik pada suatu ruang dan kembali pulang dengan keadaan luka juga pakaian lusuh. Delapan tahun berlalu, May dan ayahnya mulai menata hidup kembali. Mai bertahan dengan keteraturan hidup dan tak pernah keluar dari kamarnya, trauma pada sentuhan pria lain (termaksud ayahnya), tidak berbicara, dan hanya makan putih, (nasi, telur, tahu dan air putih). Sedangkan ayahnya sendiri dalam rasa bersalah merawat May di siang hari, dan  melampiaskan segala amarahnya di malam hari dengan jadi petinju dan petarung bebas. Alur cerita mulai berubah saat muncul seorang pesulap (Ario Bayu), yang tinggal di sebelah kamar May. Selama film kita dibawa dalam adegan-adegan emotional May menghadapi hal-hal baru yang datang dalam hidupnya, tapi juga mempengaruhi ayahnya.
Setiap peran juga dimainkan dengan karakter yang sangat kuat, bukan hanya peran May dan ayahnya, tapi juga peran Magician dan Kurir yang selalu memberi pesan dan semangat positif untuk ayahnya May. Film 27 Step of May sendiri bisa jadi gambaran bagaimana hancurnya korban kekerasan seksual, bukan hanya sekedar luka fisik tapi juga mental. juga tak hanya melukai sang korban juga melukai orang-orang sekitar juga. Entah kenapa juga ya ni film diputar bertepatan dengan waktu aksi #womenmarch yang diadakan waktu yang nyaris berdekatan. Dengan salah satu agenda (masih) mendesak RUU P-KS.
film yang berdurasi 1jam 52 menit ini merupakan karya Raya Mukarim yang dulu sempat sukses dengan film-film seperti Pasir berbisik, Banyu Biru, dan terakhir adalah Bufallo Boys (2018).
nah biar tambah yakin kalo film ini berkualitas, film ini sebelum diputar komersil saat ini pernah mendapatkan banyak penghargaan antara lain.

 Pemenang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival

Kategori: Best Asian Film chosen from Asia Feature Program
Penghargaan: Golden Hanoman Award

Unggulan di Festival Film Tempo

Kategori: Film Terbaik
Penghargaan: Penghargaan Festival Film Tempo

Unggulan di Festival Film Tempo

Kategori: Sutradara Terbaik
Penghargaan: Penghargaan Festival Film Tempo
Penerima: Ravi Bharwani

 Pemenang di Festival Film Tempo

Kategori: Skenario Terbaik
Penghargaan: Penghargaan Festival Film Tempo
Penerima: Rayya Makarim

Unggulan di Festival Film Tempo

Kategori: Aktor Utama Terbaik
Penghargaan: Penghargaan Festival Film Tempo
Penerima: Lukman Sardi

 Pemenang di Festival Film Tempo

Kategori: Aktris Utama Terbaik
Penghargaan: Penghargaan Festival Film Tempo
Penerima: Raihaanun

Unggulan di Festival Film Tempo

Kategori: Aktor Pendukung Terbaik
Penghargaan: Penghargaan Festival Film Tempo
Penerima: Verdi Solaiman

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments