Bicara Suara di Medan Soundspectives

7:15 AM



penampilan anak-anak Afganistan di MS

Pada 30 dan 31 Maret 2019 yang lalu, baru saja selesai dilaksanakan sebuah event yang keren beut, namanya Medan Soundspective. Medan Soundspective adalah sebuah even yang digagas oleh Mathias dan Rani Jambak, untuk memberi hiburan dan juga edukasi tentang suara dan bagaimana kita menanggapi suara-suara di sekitar kita.
Sekilas tentang Mathias, adalah seorang dosen tamu dari Jerman yang saat ini mengajar di Unimed dengan latar belakang dunia theater  dan film.  Mengapa Medan Sounspective ada, karena bagi Mathias ada tiga alasan yaitu Medan adalah kota yang cukup bising dibandingkan kota asalnya di Berlin(Jerman) , dan Medan juga merupakan kota dengan beraneka macam kultur dan budaya, Bahasa dan agama, dan ketiga adalah perubahan komunikasi yang terjadi tidak hanya di Medan tapi juga di banyak kota akibat teknologi daring dan sosial media, dimana dengan mendengar adalah bentuk komunikasi yang penting. Sedangkan Rani Jambak adalah musisi muda lokal Sumatera Utara yang cukup concern pada perkembangan musik di Sumatera Utara. Melalui Medan Soundspective Mathias dan Rani ingin mengedukasi melalui prespektif suara dalam berbagai macam media  dan program yang dihadirkan tetapi juga menghibur para pengunjung yang hadir.
Ide sampai perencanaan dalam medan soundpaective sendiri seluruhnya dilaksanakan dalam lima bulan terakhir, dimana pertama kali Rani bertemu Mathias dan kemudian berproses lau menemui banyak orang kemudian kini telah ada sekitar 110 orang lebih yang terlibat dalam Medan Soudspective termaksud dari talent, kru film, mural, dan lain-lain yang teribat dalam Medan Soundspective. Dengan bertemu banyak orang dan banyak prespectif sebuah ide kecil ini berkembang menjadi sebuah even dengan beragam aktifitas.
Lalu ada apa saja di Medan Soundspective.

Talent Musik lintas Genre.
Yang mananya festival, apalagi tentang suara, pasti engga jauh-jauh dari yang namanya musik. Dari opening di tanggal 30 pukul 15.00 wib kita udah di hibur dengan berbagai genre musik baik itu di indoor hall, atau out door stage. Pada tanggal 30 di outdoor kita akan dimanja dengan penampilan dari Soerkam Musik, Terminal kuningan, Acoustic Junior dari SMA Sultan Iskandar Muda), Jere fundamental, juga penampilan juga ada pernampilan EDM dari DJ , sedang dalam Indoors kita bakal di manjakan dengan penampilan-penampilan musik dan tari dari afganistan, juga Musik klasik,  juga ada penampilan Bintang Le Blue dan Holong Mahardika.
Sedang pada tanggal 31 kita kembali dihibur oleh talent-talent medan yang keren, dari Kultar Unimed, Iwa and the Unimed Musicology family, Qinia Music, Medan Blues Society All Stars, Hujan Kata-kata, Filsafatian, dan Hello Benji. Sedang dalam indoor kita bakal dengar akustikan yang engga kalah asik dari Komunitas Jede, dan sanggar krido laras. Juga musik dari Arunika di malam harinya.
perform Qinia Musik di MS


 Workshop
Terdapat dua workshop yang di buat medan soundspective, dimana pada hari pertama yaitu 30 Maret adalah workshop yoga, Oleh kak Lia Farida. Di workshop ini kita belajar bagaimana tehnik dasar dari gerakan-gerakan yoga yang ternyata juga mampu untuk menetralisir hal negatif juga membentuk kelenturan tubuh.
Lalu juga workshop Beat Box pada hari ke dua oleh bang Ari Ridwan, buat kalian yang pingin belajar buat memanipulasi suara kalian  jadi beat musik yang asik.


Diskusi
Pada tanggal 30 diskusi dengan "Tema Untuk apa kita dengan Indra Linguristik Kita", dengan beberapa narasumber yang cukup keren dari berbagai prespektif. Mulai dari budaya oleh antropolog dan musisi bang Ibnu Avena Matondang, prespektif kesehatan dari Dr. Siti Masliana Siregar Sp. THT, pakar yoga oleh Bli Komang. Dan juga oleh teman-teman seorang penyandang tunanetra yang di wakili pak Syahrial Napitupulu
Dari Sudut budaya saya mendapat pencerahan bagaimana pola mendengar kita dari masa ke masa berubah, tidak hanya dari cara berkomunikasi, tapi juga bagaimana pola mendengar berubah sesuai dengan perkembangan media akustik itu sendiri. lebih jelas di contoh kan oleh abanda Ibnu seperti perkembangan alat musik tabuh dari bahan kayu dan kulit ke logam akan membuat perbedaan cara kita mendengar.   
Pentingnya telinga sebagai alat komunikasi dijelaskan oleh Dr. Siti Masliana. bagaimana telinga sebagai sebuah organ tubuh yang sanagt penting, tidak hanya dalam berkomunikasi, tapi juga dibutuhkan dalam banyak aktifitas pekerjaan.
Pendengaran merupakan indra pertama yang berfungsi pada manusia, maka kata Bli Komang "berkata baik dan indahlah pada bayi maka itu akan terekam". Dan bagaimana pengaruh suara terhadap tubuh dan jiwa. Seperti air yang terpengaruh terhadap getaran suara, tubuh manusia yang terdiri dari 90 persen air pun akan mudah dipengaruhi oleh suara. Sebuah tehnik dalam yoga yaitu pranayoga dipercaya mampu membersihkan racun-racun dalam tubuh termaksud suara dengan yoga.
pentingnya suara juga sangat dirasakan oleh teman-teman tuna netra dimana mereka sangat bergantung pada pendengaran dan isnting. Hal ini tentu saja tidak didapat dengan begitu saja, kepekaan yang didapat teman-teman tunanetra ternyata merupakan hasil dari latihan mereka saat mereka belajar di sekolah luar biasa.

Film-Film Pendek dan Film Bisu
Di Sopunspective juga menayangkan banyak film domenter dari dari beberapa negara antara lain jerman, jepang, korea, Singapore, dan Indonesia sendiri, kebanyakan film pendek yang diputar merupakan film-film dengan prespektif bunyi. Beberapa film merupakan film karya Mathias dan juga dari anak muda kreatif medan sendiri. satu film yang membuat medan soundspective berbeda dengan event-event budaya lain adalah adanya Film bisu.
Buat yang belum tahu film bisu yang di putar Medan Soundspective adalah sebuah film dokumenter tanpa suara tentang kota medan dari matahari terbenam, sampai tengah malam. Nah, jika kemarin ada teman-teman yang hadir pada medan soundspective kemarin, dan sempat menyaksikan film bisunya ternyata ada suaranya juga musiknya, maka suara dan musiknya itu berasal dari tim musik yang ada di depan panggung layar, bukan berasal dari dalam film. Jika tim film maker berasal dari Mathias, maka tim musik berasal dari Rani jambak dan kawan-kawan. Suara-suara yang digunakan bukan hanya berasal dari alat musik konvensional, tapi juga dari barang-barang sehari-hari seperti gelas, sendok, bambu, bahkan kertas.
Banyak yang berharap dari teman-teman yang hadir Medan Soundpective menjadi sebuah even tahunan, karena mampu memberi edukasi dan pemahaman baru tentang suara, juga mampu menghadirkan penampilan musik lintas genre dalam satu panggung, yang paling penting juga event ini itu gratis. So, Mari berdoa ya, semoga event keren gratis gini sering-sering ada di Medan.

  • Share:

You Might Also Like

17 Comments

  1. hai.. perginya bareng2 ma mba desy yah... n si nastiwang?
    ada potonya tu ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cmana lah kak. Grup media partner. Sekalian pengisi galeri juga si Abu-abu ni

      Delete
  2. Wkwkwkk, dokter siti masliana, adalah dokter langganan anak awak kalo telinganya mau dikorek.
    Secara anakku yg paling besar, serumennya gak bisa keluar seperti orang kebanyakan. Harus disedot dulu, hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah.. ternyata dokternya femes ya kak. Ga tau manusia abu.

      Delete
  3. belum terlalu paham dengan tujuan acara ini. tapi acara2 di dalemnya cukup menarik untuk diikuti.

    ReplyDelete
  4. Duh rugi juga saya gak nonton acaranya padahal pengen lihat anak2 penari dari afganistan dan atraksi pemain musik oskestra

    ReplyDelete
  5. Inti acaranya all about suara dari masa kemasa dari beberapa budaya dan media ya?

    Menarik juga film bisu tentang kota medan itu, dikasih musik tapi bukan berasal dr film. Jarang banget saya nonton fim bisu

    ReplyDelete
  6. Lengkap kali reviewnya bang oem. Mantap. Btw itu film bisunya judulnya apa ya? Penasaran jadi pingin nonton jugaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Medan 24 Jam kak. Film dokumenter sih bntuknya

      Delete
  7. Kadang musik lebih efektif juga ya untuk mengedukasi orang...hmm

    ReplyDelete
  8. Waahh jadi tahu banyak tentan medan soundspective ini. Sekilas, acara diskusinya jg bermanfaat banget.
    Nah, soal film bisu, dari dulu saya penasaran gmn bentuknya. Tulisan ini akhirnya menjelaskan dgn lebih jelas seperti apa film bisu itu hehe

    Pingin dtg lah kalau event ini dibuat lg tahun depan. Semoga ada waktu dan kesempatan

    ReplyDelete
  9. Keknya kalo liat lgsg lbh seru ya bang :))

    ReplyDelete
  10. Jadi inget pilem Thailand kalau gak salah, tentang pilem bisu,
    dari awal tokoh ceweknya nya diceritakan bisu, cowoknya nggak. Tapi karena si cowok suka dia jadi pura pura bisu biar cewek mau. Di akhir ternyata baru ketahuan ceweknya gak bisu, yg bisu kakak cewek jadi dia kebiasaan pake bahasa isyarat kebawa bawa.. menarik karena filmnya bener bener tanpa suara kecuali di akhir ketika terbongkar keduanya tidak bisu...
    Mungkin seperti itu kali yaa pilem dokumenter bertema bisu yg diputar di acara itu 😅

    ReplyDelete
  11. Acaranya keren ya bang. Pengen lihat lagi... Apalagi penyanyi cewek yang cantik kemarin. Suaranya merdu banget. Tp ga tau aoa yang dinyanyikan dan bahasa apa. Hahaha

    ReplyDelete
  12. Acaranya keren ya bang. Pengen lihat lagi... Apalagi penyanyi cewek yang cantik kemarin. Suaranya merdu banget. Tp ga tau aoa yang dinyanyikan dan bahasa apa. Hahaha

    ReplyDelete
  13. Acaranya keren ya bang. Pengen lihat lagi... Apalagi penyanyi cewek yang cantik kemarin. Suaranya merdu banget. Tp ga tau aoa yang dinyanyikan dan bahasa apa. Hahaha

    ReplyDelete