Cerita Hari Sabtu

1:09 AM




Allahu akbar, Allahu akbar”. Suara azan dari puncak menara masjid menjadi panggilan pertama pembuka hari.
Bangun, itu panggilan Tuhanmu untuk seluruh alam, sebuah petuah yang tertanam dalam kepala, menjadi alarm.
Pukul tujuh, semua orang seperti diburu, jalanan kota mulai penuh.
Setengah jalan mungkin dipakai parkir kendaraanmu, sedang setengah lagi, dikuasai pedagang tradisional, yang berteriak mengisyaratkan bahan-bahan terbaik dari buminya,
dan ibu-ibu yang memilih menu apa untuk makan siang, sambil menawar agar tetap ada  sisa jajan anaknya.
Semua orang terburu-buru. Tak peduli dengan rambu, walau tanda merah yang menyala, tak cukup untuk menghentikan suara klaksonmu.
Sebagian meneriakimu maju, tak peduli garis putih yang menjadi batasmu.
Supir-supir angkutan kota berbaris pada titik-titik pemberhentian, menunggu angkotnya penuh lalu berjalan. dengung klakson lagi-lagi jadi makanan, jika kau beruntung akan kau dengar makian dari supir yang tidak sabaran, atau hanya sebuah kata panggilan. Tak ada beda kecuali kau baca raut muka.

Di ruangan mana pun kau bekerja, mungkin kau juga mendengar pola sama.
di antara suara “tik” keyboard atau mesin pabrik, wanita-wanita bercerita tentang keluarga, tetangga, tentang siapa saja yang layak digunjingkan, sialnya, semua layak. Jangan lupakan para pria, yang bercerita tentang tubuh wanita, juga fantasi mereka.

Waktu pukul tiga sebagian orang mulai keluar sebagai pecinta, untuk kekasih atau keluarga.
Sebagian mulai keluar dari kota, menenangkan segala polusi dari pori hingga kepala.
Sebagaian berhibernasi akhir pekan, menghilang dari rutinitas yang menjenuhkan.
Sebagian lagi bercengkrama dengan orang tersayang di tempat hiburan, atau pusat perbelanjaan
Dari tiap toko dan café memasang nada penarik untuk tiap pengunjung, jika berjalan di antaranya mungkin kupingmu akan berdengung.



Sekumpulan remaja duduk di sebuah café dengan menu favorit, untuk diposting.
Tertawa bahagia, bercengkrama, untuk diposting.
Tag teman, tempat, tunjukkan kelas sosial, dalam posting.
Duduk bersama tapi menunduk, chating
sebuah masyarakat dimana media sosial menjadi lebih penting.

Menjelang malam dipinggir kota, orkes melayu mengalun dalam tiap panggung.
Seorang pria jelita bersuara merdu mendapat sorakan dari pengunjung.
Siapa sangka mereka yang dihina bisa sangat ditunggu,
Bahkan menggoda para hetero yang tak mampu membendung nafsu.

Dari depan gereja tua, pujian dan doa terdengar dilantunkan dalam paduan suara.
Simfoni merdu pujian membawa setiap jamaahnya semakin terbawa.

Kota tak pernah mati walau malam makin larut.
Dalam diskotik kelas bawah atau kelab-kelab kelas atas pesta masih berlanjut.
Disk jokey di singgasananya, dalam kuasa mencampur nada di ketukan yang sama, menarik menusia untuk berbaur.
Di atas lantai dansa, irama menghentak, statusmu hilang dalam keriuhan, Tak peduli kau anak gubernur, atau   pelacur.
Kota tak pernah tidur, walau kau lelap mendengkur.   


Maret, 2019
YumaDilla


  • Share:

You Might Also Like

0 Comments