Bicara tentang Genderless

6:47 AM


beberapa hari yang lalu si manusia abu-abu ini nemu sebuah video di laman youtube  tentang seorang tokoh yang cukup menarik. Di video yang berkisar sekitar 35 menit dengan Judul ”Dari Perspektif Ian Hugen Tentang Menjadi Seorang Genderqueer dan Mencintai Diri Sendiri” ini, Ian Hugen mendeskripsikan dirinya sebagai Genderless atau Queer (genderqueer). Nah, lho? Pada nanya-nanya kan ini jenis mahluk apa lagi?
Beberapa bulan yang lalu saya pernah bahas masalah GenderLess Culture di Jepang.
Jadi, sebenernya Genderless itu apa sih? Genderless yang juga dianggap sebagai queer dapat diartikan sebagai tidak ada gender atau dapat mencakup keduanya (walau queer memiliki defenisi yang mencakup pengetian yang lebih luas). Jadi seseorang yang mengkatagorikan dirinya sebagai genderless tidak mengangap dirinya sebagai laki-laki, perempuan atau juga transgender, tapi juga menganggap dirinya bagian dari semua gender tersebut. Ian Hugen sendiri mendefinisikan tentang gender sendiri merupakan bentukan society (masyarakat), gender merupakan sebuah konsep, bukan ditentukan oleh kelamin. Laki-laki dan perempuan adalah masalah role (peran). Ian kemudian mencontohkan jika dia bisa bertanggung jawab dengan perannya sebagai laki-laki juga memiliki sisi feminis, dia bisa menjadi laki-laki juga perempuan.


Pengertian gender sendiri memang dibentuk secara sosial dalam masyarakat dimana peran-peran gender sebagai laki-laki dan perempuan biasanya ditentukan oleh kelamin seseorang sejak lahir, tetapi kemudian pada personal-personal tertentu tidak selalu mengikuti atau bahkan keluar dari peran-peran yang menempel dari identitas lahirnya . Sebagai identitas,  gender sendiri dipahami tentang bagaimana manusia mengenali diri dan mengidentifikasi diri mereka sendiri sehingga dia akhirnya mengambil peran-peran juga mengidentifikasi dirinya sesuai atau diluar stadart yang telah ditentukan masyarakat.
Memang fenomena genderless ini lebih dulu merebak dalam tren busana, dengan semakin merebaknya mode-mode unisex dan androgyny yang mana orang dapat memilih gaya yang “tidak biasa” dipakai jenis kelaminnya. pelaku genderless dashi di Jepang sendiri biasanya juga mencampur adukkan kedua model maskulin atau feminim dalam gaya penampilannya.  (dalam hal ini genderless dapat diartikan sebagai sebuah bentuk dari ekspresi jender).
Pelantun lagu “my heart will go on” sendiri dalam sebuah brand fashion anak yang pernah dia luncurkan sempat menggebrak dengan model fashion yang di katakan “genderless” dalam iklannya. Digambarkan dimana Celine Dion menerobos ruang bayi yang dibagi menjadi warna biru dan pink, kemudian dengan meniup glitter seluruh model pakaian bayi-bayi tersebut berubah dengan model-model yang lebih netral (mungkin penonton tidak akan tahu mana anak laki-laki atau perempuan).
Seringkali genderless di Indonesia dianggap sebagai sebuah fenomena LGBT karena dianggap melawan dari aturan atau norma heteronormative yang ada. Walau (seperti yang pernah saya tulis: Identitas Gender tak Menggambarkan Orientasi ) tidak selalu identitas atau bentuk ekspresi ini menggambarkan tentang orientasi seseorang, tetapi harus lebih dilihat sebagai bentuk keberagaman seksual (dalam identitas, dan ekspresi). Walau demikian Indonesia sendiri, memiliki beberapa role model untuk genderless selain Ian Huges, antara lain Darrel Ferhostan yang menjadi role model Androginy Indonesia.    
Darrel Ferhostan


  • Share:

You Might Also Like

21 Comments

  1. "Seringkali genderless di Indonesia dianggap sebagai sebuah fenomena LGBT..."

    Jelas lah kak, karena dengan adanya gender less, maka campaign oorganisasi yang pro lgbt lebih mudah kerjanya.

    Dan kemarin juga liat video dimana baby gak boleh dipanggil boy atau girl.
    Jadi gak ada baby boy atau baby girl usia 0-4 tahun.
    menyebut mereka harus theybie.


    Nah, syukur di Indonesia gak gini.
    karena kita masih suka nanya "Anaknya cewek apa cowwok?" Wkwkwk


    Balik lagi kak, karena di agama yang awak percaya, hak seorang anak harus dididik sesuai jenis kelaminnya, maka pembentukan orientasi seksual dan pengenalan gender adalah tugas orang tua..


    ♥♥♥♥

    ReplyDelete
  2. "Seringkali genderless di Indonesia dianggap sebagai sebuah fenomena LGBT..."

    Jelas lah kak, karena dengan adanya gender less, maka campaign oorganisasi yang pro lgbt lebih mudah kerjanya.

    Dan kemarin juga liat video dimana baby gak boleh dipanggil boy atau girl.
    Jadi gak ada baby boy atau baby girl usia 0-4 tahun.
    menyebut mereka harus theybie.


    Nah, syukur di Indonesia gak gini.
    karena kita masih suka nanya "Anaknya cewek apa cowwok?" Wkwkwk


    Balik lagi kak, karena di agama yang awak percaya, hak seorang anak harus dididik sesuai jenis kelaminnya, maka pembentukan orientasi seksual dan pengenalan gender adalah tugas orang tua..


    ♥♥♥♥

    ReplyDelete
  3. Double post kak.
    Saya selalu setuju dengan mengajarkan segala hal biner, heteronormatif, dan juga logika moral sedini mungkin kak.

    Tapi tetap mwnghormati pilihan2 setiap orang atas dirinya sendiri (selama engga merugikan dan meracuni paksa orang lain) πŸ˜†

    *Tulisan ini hanya sebuah review sosial dan tidak mengkampanyakan apapun

    ReplyDelete
  4. Saya suka melihat isu-isu sosial, dan konsep genderless kok rasanya baru banget bagi saya.
    Asli, mungkin saya yg emang kurang wawasannya, sampai istilah genderless sendiri saya baru tahu ini
    Apakah mereka menyatakan diri masuk dalam LGBT, atau mereka merasa berdiri sendiri dan bukan bagian dari LGBT? Hmm, ada-ada saja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di indonesia mungkin cma populer LGBT tapi ada klmpok yg lbih besar bang. Kyk LGBTIQ bahkan ada lagi LGBTIQN+ dengan keberagaman isu seksual yang sangat luas.ga cuma masalah identitas juga orientasi.

      Delete
  5. Kategori baru?
    Bisa terlihat di trend jepang dan korsel mnrt saya..
    Para member boyband adalah para lelaki yang cantik.

    Dan saya lebih suka anak2 saya jadi para lelaki yang betul-betul laki-laki... Baik fisiknya, juga mentalnya...

    Soleh nak yaa.. Solehh....

    ReplyDelete
  6. Baru tau ada istilah Genderless? πŸ™„

    ReplyDelete
  7. Kadang awq ngerasa lah jadi laki2 kadang perempuan ahahha kekmana tu bg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus konseling lagi lah masalah ini

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  8. Postingan yg menarik saya jadi tau ttg istilah genderless ini, seperti yg contoh model androgini macam Darel Ferhostan, meskipun nampaknya kemayu ia juga tetap memperlihatkan sisi maskulinnya, tapi kalo yg ngaku2 dia cewe sampai ngaku pernah haid apalagi hamil padahal dia cowo itu yg gak paham lah, taulah siapa orangnya kan hehe

    ReplyDelete
  9. Sejujurnya kalau baca istilah baru dalam dunia gender gini aku ngeri tp juga harus melek mata kalau ini semua ada.��

    Semoga bisa mendidik anak sesuai fitrahnya di tengah berbagai tantangan zaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiin kak. Smoga jadi anak saleh dan saleha yang menjalankan tuntunan agama dengan bijak dan benar

      Delete
  10. Waduh.. selalu deh kita bertolak belakang oem. hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga apa kak.biasa itu. Hanya berbagi pengetahuan. Saya juga belajar parenting dari akak πŸ˜„

      Delete
  11. No comment, tentang topik ini, Karna masing-masing orang punya pandangan yang berbeda. Agak sensitif. Kita saling menghargai pendapat masing-masing

    ReplyDelete
  12. Untung tinggal di Indonesia. Gak aneh2 kayak di luar... Banggalah tinggal di sini. Mantap opininya bg

    ReplyDelete
  13. Dari judulnya aja, sudah tau yang dibahas. Hehehe

    Dari Gendreless, secara perlahan bisa ke feminine bagi seoarang pria. Sudaj ada kog contohnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya ada lah bang. Kalo ga ada ngapain jadi bahasan. πŸ˜…

      Delete
  14. Kalau sehari2 paling kalau mau beliin baju or celana anak suka nanya ini bajunya apa celananya unisex ya? Gitu doang sik...tapi di tataran keseharian, kami firm mengenalkan perbedaan gender, ciri, peran dan tanggungjawab ke anak sedini mungkin. Begitupun di luar sana pastilah banyak ya fenomena spt yang umar tuliskan apalagi di luar negeri.

    ReplyDelete