Women March Medan

6:15 AM


-         Lawan Hoax RUU Penghapusan Kekerasan Seksual bersama Perempuan Hari ini
Setiap tahun pada tanggal 8 MAret, dunia memperingatinya sebagai Hari perempuan sedunia. Demonstrasi pada tanggal 8 Maret 1917 yang dilakukan oleh para perempuan di Petrograd memicu terjadinya Revolusi Rusia. Hari Perempuan Internasional secara resmi dijadikan sebagai hari libur nasional di Soviet Rusia pada tahun 1917, dan dirayakan secara luas di negara sosialis maupun komunis. Pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia. (wikipedia)

Untuk memperingati hal tersebut komunitas Perempuan Hari ini menyelengarakan sebuah diskusi dengan tajuk “Menyimak dan Membedah RUU penghapusan Kekerasan Seksual Pada 2 Maret 2019 Kemarin di Literacy Coffee. Diskusi ini di Isi oleh tiga orang pemateri yaitu kak Wira Padang dari Aliansi Sumut Bersatu, Bu Laili Zailani dari HAPSARI dan Kak Rita Barimbing.
            Diskusi ini sendiri membahas tentang Hoax seputar RUU Kekerasan Seksual dan Mengapa Pentingnya RUU ini untuk di sahkan.  Seperti yang pernah saya jelaskan pada blog saya sebelumnya
Baca :

Bahwa Rancangan ini sendiri udah diajukan sejak tahun 2016 dan mengalami beberapa revisi tapi sampai menjelang pergantin pemerintahan di tahun 2019 belum ada kejelasan kapan Rancangan undang-undang ini akan di sahkan.
Pada diskusi kali ini pembicaraan lebih banyak di fokuskan bagaimana pentingnya undang-undang ini dan bagaimana RUU-P KS ini juga diharap mampu tidak hanya menghukum pelaku tapi juga melindungi dan memperbaiki kondisi psikologis korban-korban pelecehan.
Dari kak Wira Padang untuk melawan pemberitaan-pemberitaan ini sendiri bahkan Komisi Perlindungan perempuan dan anak sendiri telah menyebarkan surat pernyataan bahwa pernyataan-pernyataan tersebut tidak benar.
Kak Rita Barimbing juga menjelaskan bagaimana Undang-undang saat ini seperti UU Perlindungan anak, Ketahanan Keluarga, Perdagangan manusia, ini belum mampu untuk melindungi dan juga ramah terhadap korban-korban kekerasan. permasalahan hukum seringkali selesai ketika pelaku ditindak, tetapi tidak adanya penindakan lanjutan terhadap korban. Padahal korban bisa saja mengalami trauma berkelanjutan akibat kekerasan yang dialaminya. Lebih dalam dicontohkan dalam beberapa kasus pendampingan yang pernah di alami oleh beliau bagaimana  korban mengalami trauma sampai sampai berkali-kali pingsan saat melihat pelaku di persidangan.
Bu Laili Zailani dari Hapsari juga banyak berbagi cerita bagaimana korban-korban kekerasan yang kebanyakan adalah wanita mendapat tindakan-tindakan diskriminatif dan stigma jelek dari lingkungan. Banyak kekerasan yang dalam kasus pendampingan  HAPSARI berasal dari lingkungan terdekat korban. Kebanyakan korban kekerasan ini cendrung tertutup, sehingga sulit untuk melaporkan kejadian. Belum lagi pelecehan dan kekerasan seksual yang hanya di maknai jika terjadi pemerkosaan atau penetrasi secara paksa, sehingga perilaku kekerasan seksual sering di abaikan.

-          Nonton bareng Marlina dan Diskusi Hukum dengan Cangkang Queer
Pada hari jumat minggu berikutnya tepat pada 8 Maret 2019, diadakan kembali screening film Marlina dan diskusi hukum yang diadakan oleh Cangkang Queer. Film marlina pembunuh dalam empat babak sendiri bercerita tentang Marlina, seorang Janda di Sumba yang suaminya meninggal, dan meningalkan hutang penguburan, sebagai gantinya ternak-ternaknya di ambil malam itu, dan Marlina di perkosa. Akan tetapi marlina memberontak dan membunuh empat orang yang ingin memperkosanya, dan memotong kepala satu orang yang memperkosanya.
Pada suatu adegan digambarkan bagaimana saat Marlina melapor ke kantor polisi daerah, akan tetapi sikap ketidak pedulian tergambar pada aparat negara disana. mulai dari respon laporan yang sangat lama, menyalahkan marlina atas perkosaan yang dialaminya, juga tidak langsungnya memproses laporan.
Kak Rita Barimbing yang kembali hadir menjadi pemateri, mengatakan kisah marlina adalah contoh bagaimana perempuan bisa menjadi objek kekerasan dalam masyarakat, dan bagaimana kekosongan hukum tidak mampu melindungi perempuan korban-korban kekerasan khususnya perempuan.
Hal serupa juga di sampaikan kak Wina Khairina dari Hutan Raya Institute. “34 tahun setelah CEDAW (convention of the Elimination of All Form of Women Discrimination Against Women). Merekfleksi dari film Marlina,  perempuan masih mengalami ragam bentuk ketidak adilan gender, subordinasi, marginalisasi, stereotype, beban ganda dan kekerasan. Budaya kekerasan juga masih menjadi praktek biasa yang menyebabkan lingkar kekerasan pada perempuan.
      Kekerasan seksual, perkosaan, rape by married.
      Perampasan akan harta benda, melanggar hak atas keamanan harta benda.
      Blame the victim, menyalahkan korban, “kenapa kau biarkan dia memperkosa kau”, meragukan keterangan perempuan.
      Labeling perempuan an. “perempuan nakal”, “janda, bisa di pakai”.
      Tuduhan selingkuh dan kekerasan fisik dan pshikis kepada istri.
Perempuan masih menjadi obyek pembangunan, belum ditempatkan sebagai  subyek pembangunan. Secara struktur Negara sering abay bahkan absen dalam melindungi perempuan, sehingga korban menjadi korban berkali-kali.
      Perkosaan yang berulang
      Terpaksa membunuh kedua kalinya untuk membela diri.
      Kelahiran yang tidak aman dan sehat.
      Menyebabkan kerusakan fisik dan pshikis pada perempuan.
Sekilas tentang Cangkang Queer, cangkang adalah lembaga yang concern terhadap permasalahan HAM khususnya tentang issue gender dan LGBTIQ, teman-teman LGBTIQ merupakan teman-teman yang rentan terhadap kekerasan, baik yang terlahir sebagai perempuan, lesbian,a ataupun transpuan, sangat rentan terhadap kekerasan. pada acara yang sama Amee Adlian selaku ketua cangang Queer saat ini juga membacakan sebuah monolog dari biografi seorang transpria yang mengalami kekerasan dalam hidupnya, mulai dari di Perkosa sampai di tuduh membunuh darah dagingnya sendiri. Rencananya Buku ini sendiri akan terbit Mei atau Juni. 
Nah, pada esok harinya yaitu pada pukul 9 Maret 2019 teman-teman dari berbagai komunitas dan lembaga yang concern terhadap isu-isu gender dan perempuan juga mengadakan aksi turun ke jalan, di depan lapangan merdeka Medan. Sayang saat itu saya berhalangan hadir karena sudah ada acara lain, tapi kata teman-teman yang hadir acara berjalan lancar dan damai.

Semangat dan terus berjuang teman-teman, lawan diskriminasi, for equality



  • Share:

You Might Also Like

10 Comments

  1. Kalo aku sih kak, memandang ruu p-ks sebagai undang2 feminisme.
    Di satu sisi membela perempuan di sisi lain perempuan bisa meletakkan ego tingginya untuk tidak disalahkan.

    Ada beberapa paSal bias.
    Trus soal queer, heheheh maaf saya gak pro.
    Saya setuju ada 3 orientasi seksual. Tapi tidak setuju identitas seksual dijadikan pembenaran.
    Eh udah pernah saya tulis ya.. hihihi

    Akur ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walau pendapat beda Selow kak. Kita tetep saudara seakidah dan senegara kok.

      Delete
  2. pembahasan yang berat nih... *elus2 jenggot*

    ReplyDelete
  3. Kegiatan yang sangat positif nih. Tertarik dengan kalimat "perempuan masih menjadi obyek pembangunan, bukan ditempatkan sebagai subyek pembangunan", ini ada benernya juga. Bisa dikaji lebih dalam lagi nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti kita wawancara pemateri yg paham lebih dalam bang

      Delete
  4. Meski dibuat RUU atau UU, menurutku perempuan masih saja dijadikan korban kekerasan seksual. Apalagi mereka yang takut untuk bicara. Tapi semoga Kdepannya lebih baik.

    Perempuan pakai hijab pun, masih juga dibilang mengundang syahwat. Alasannya karena mata atau mungkin jalannya. Lucu deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu lah bang. Kadang kita cuma di ajari buat tutup aurat, tapi lupa di ajari jaga syahwat.. #eh...

      Delete
  5. Pembahasan yang menarik, namun rada berat. Pernyataan yang menarik: "Wanita lebih sering menjadi objek pembangunan, daripada menjadi subjekpembangunan."

    ReplyDelete
  6. RUU yang masih menjadi prokontra. Diskriminasi kita aja yang buat-buat. Padahal ajaran islam begitu memuliakan perempuan. semoga nanti ada titik tengah.

    ReplyDelete