Melela, Mencari Penerimaan atau Bantuan?

10:11 PM


Hampir setiap orang ingin menunjukkan siapa dirinya dan diterima dalam lingkungannya, tapi tidak semua orang dapat dengan mudah melakukan hal tersebut, kususnya teman-teman dengan permasalahan gender yang berbeda dan minoritas. Usaha untuk membuka diri ini diistilahkan dengan ‘Melela’. Kata /melela/ sempat digunakan penulis Pramoedya Ananta Toer di dalam novelnya berjudul Bukan Pasarmalam yang terbit pada 1951. Kata /melela/ bermakna ‘menunjukkan diri dengan cara yang elok.’ Merujuk pada makna tersebut, kata /melela/ dapat digunakan sebagai padanan kata Inggris “coming out”. (Melela.org)

Mengapa harus melela? Sebagian besar, orang hanya ingin jujur ​​tentang siapa mereka, terutama dengan orang yang mereka sayangi. Menyembunyikan siapa Anda bisa menjadi perjuangan besar. Anda dapat menguras energi dan menjadi tidak fokus dari hal-hal penting lainnya dalam hidup Anda seperti pekerjaan atau pendidikan Anda.
 Dikutip dari suarakita.org, dengan melela, secara langsung maupun tidak, dapat membantu mengubah sikap di masyarakat dan membangun dukungan untuk penerimaan sosial dan kesetaraan hukum bagi LGBT. Proses melela bisa sangat berbeda untuk setiap orang dan mungkin perlu beberapa saat untuk sampai ke titik di mana Anda merasa siap untuk melela, yang mana itu bukan masalah. Hal utama yang perlu diingat adalah jangan sampai memberi tekanan pada diri sendiri dan hanya melela saat Anda merasa siap.
Proses melela sendiri, bisa jadi seperti pertaruhan karena tidak semua orang bisa menerima dengan perbedaan dan diri kita sendiri. yang harus disadari betul adalah dengan siapa kita melela. Di negara yang kurang toleran dengan LGBTIQ+ , juga dimana homoseksualitas masih disadari sebagai penyakit, melela akan sangat sulit. Resiko-resiko ditolak oleh keluarga, penyebaran oleh media sosial, juga sampai praktek terapi konversi agama secara paksa. Sedangkan penerimaan sendiri bisa berarti kelegaan, dan kenyamanan, bisa jadi merupakan tempat aman untuk berbagi dengan orang-orang yang menerimanya.
Apa yang Harus Diperhatikan Saat Melela?
Seperti yang sudah di jelaskan di atas, melela bukan merupakan hal yang mudah, khususnya dengan orang-orang terdekat, apalagi di masyarakat dimana LGBTIQ masih dianggap sebagai hal tabu dan cukup dibenci. Dalam melela pada seseorang yang harus di perhatikan adalah seterbuka apa orang yang menjadi sasaran melela memahami dan terbuka terhadap masalah tersebut. pernah saya mendengar suatu cerita ddari teman, dia sempat melela ke adiknya, tapi justru memuat hubungan dia dan adiknya memburuk. Padahal adiknya cukup terbuka dan tidak mempermasalahkan  teman-temannya yang merupakan seorang gay.
Selain itu juga perlu kesiapan dan tidak adanya tekanan saat melela, bagi teman yang misalnya ingin memancing seseorang agar melela pun, bisa memberi ruang nyaman, sehingga meyakinkan temannya untuk melela. Mencoba jujur dan terbuka terhadap masalah pribadi pada seseorang yang ingin melela pun bisa menjadi salah satu jalan. Kenyamanan, dan keamanan adalah hal penting yang saat seorang ingin melela. Menunjukkan sikap terbuka dan menerima terhadap segala perbedaan adalah kunci agar dapat kenyamanan seseorang yang ingin melela tanpa menghakimi.  
sumber : tirto.id

Bagaimana Bila Ada Anggota Keluarga Melela?
Daritirto.id, Paparan heteronormativitas dalam masyarakat kita membuat sebagian orang terus menganggap LGBTI+ sebagai suatu penyakit yang bisa disembuhkan, kendati menurut ilmu psikologi—baik menurut pegangan pakar psikologi, DSM (American Psychiatric Association) dan PPDGJ III (Depkes RI, 1993)—kelompok ini sudah tidak dianggap mengalami gangguan atau menyimpang lagi.  Tidak hanya masyarakat dari kalangan umum saja yang punya variasi pendapat seputar kelompok LGBTI+, berbagai praktisi psikolog pun punya macam-macam pandangan.
Menurut Elizabeth Wahyu Margareth Indira, M.Pd., Psi, psikolog di Lembaga Psikologi Terapan Talenta, Semarang, langkah pertama yang bisa dilakukan orangtua ialah memeriksakan anak ke pakar psikologi. Ia juga menyampaikan, sebaiknya orangtua mengarahkan kembali si anak agar senada antara perilaku atau ekspresi gender dengan jenis kelaminnya.
“Yang tidak kalah penting, mengetahui penyebab mengapa si anak bisa demikian. Kalau ternyata dari faktor hormonal, memang perlu bantuan medis. Namun, kalau lebih banyak faktor lingkungan, perlu pendampingan psikologis seperti terapi perilaku atau konseling jika ternyata anak pernah mengalami peristiwa yang membuat ia memiliki identitas gender tidak sesuai jenis kelaminnya,” .
Psikolog klinis dewasa di Angsamerah Clinic, Jakarta, Inez Kristanti, M.Psi, berpendapat lain. Menurutnya, tidak ada yang perlu diperbaiki dari orientasi seksual seseorang yang nonhetero. Jikapun pihak keluarga ingin meminta bantuan ke psikolog, yang Inez akan tawarkan adalah berbagai saran atau informasi terkait pendampingan untuk anggota keluarga mereka tersebut.
“Orangtua tidak perlu menentang keinginan anak berekspresi atau memilih orientasi seksualnya. Yang bisa mereka lakukan adalah mendampingi dan memberi penjelasan. Edukasi tentang gender sudah bisa disosialisasikan ke anak sejak usia dini karena identitas gender mereka saat itu sudah mulai terbentuk setelah berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya,”.
Menurut studi yang dimuat di jurnal ilmiah psikologi MANASA (2016) pun disebutkan, proses penerimaan ibu terhadap anak perempuan berorientasi homoseksual pun beragam. Ada yang melewati tahap penyangkalan dulu, kemudian marah, mulai membuka posisi tawar, tertekan, hingga akhirnya benar-benar menerima anak dan orientasi seksualnya.
Lebih jauh dalam studi tersebut dikatakan, sekalipun orangtua masih merasa homoseksual adalah sesuatu yang salah dan karenanya belum bisa menerima orientasi seksual si anak, kemungkinan orangtua untuk tetap mendukung si anak tanpa mengubah nilai-nilai yang diyakininya tetap terbuka. Hal ini dapat dipengaruhi oleh niat orangtua untuk tetap mengutamakan kedekatan relasi dengan anak mereka, walau ada hal yang sulit mereka kompromikan.
Peran orangtua yang langsung menekan atau mengerem anak terkait orientasi seksual mereka hanya akan berdampak negatif. Anak bisa merasa bersalah, berdosa, jijik, dan timbul perasaan tak berharga dalam dirinya, terlebih bila keluarga berkontribusi mengolok-olok mereka. Karena itu, orangtua harus menciptakan rasa nyaman dalam diri anak dengan memberi mereka kasih sayang dan menjadi sosok teman bagi anak sejak kecil.
“Kalau peran gender terlalu saklek diterapkan, anak akan sulit mengelola emosi negatif. Efeknya, jika anak mengalami kegagalan, ia bingung mengelola emosi, lalu berekor ke potensi perilaku-perilaku negatif,” kata Inez.
Ia juga menekankan bahwa hal-hal negatif yang berhubungan dengan tekanan terhadap perasaan seseorang berimbas sama bagi orang-orang dengan identitas gender dan orientasi seksual apa pun. “Tidak ada gangguan psikis yang secara langsung terkait dengan orientasi seksual. Sama dengan orang homoseksual, orang heteroseksual pun bisa depresi kalau terus ditekan dan sulit mengekspresikan diri,”.
 yang harus dipahami paling dasar kemudian adalah mengapa seseorang akhirnya mau melela, apakah dia ingin diterima, atau membutuhkan bantuan.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments