Kenal dulu dengan Fintech Lending

12:12 AM


Hai Millenial, kembali lagi dengan ALIKA Grey. “Loh, kok ganti lagi namanya ka?”, iya dong soalnyakan Manusia Abu-abu sekarang lagi jadi ALIKA alias Agen LIterasi Keuangan jadi sementara pakai nama ALIKA Grey (Abu-abu) biar agak keren gitu.
Oh ia, karena kita udah kenal apa itu fintech diartikel lalu, sekarang ALIKA Grey mau cerita dikit nih tentang  salah satu model bisnis Financial Technology, yaitu Fintech Lending atau yang anak sini kenal dengan pendanaan daring, pinjaman online yang disingkat jadi PinJol, karena kemarin sempat disinggung oleh bu Sondang Martha Samosir selaku Kepala Departemen Literasi dan Inklusi Keuangan Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan. jadi kita cari tahu dulu nih, sebenernya Fintech Lending ini apa sih?
Fintech Lending atau dikenal juga dengan Peer to peer landing  dalam konsep dasarnya, Fintech Lending menyediakan wadah bagi para peminjam dan pemberi pinjaman, selanjutnya disebut sebagai Peminjam dan Pendana, untuk berinteraksi dalam kegiatan pinjam-meminjam dana demi berbagai kebutuhan. Atau dapat juga di katakan praktek atau metode memberikan pinjaman uang kepada individu atau bisnis dan juga sebaliknya, mengajukan pinjaman kepada pemberi pinjaman, yang menghubungkan antara pemberi pinjaman dengan peminjam atau investor secara online. koinwork



contoh P2L koinwork

Jadi bisa dikatakan ada dua unsur penting disini yaitu investor (pemberi pinjaman) juga lender (peminjam).
Dapat disimpulkan bahwa peer to peer (P2P) lending memiliki 2 fungsi utama, yakni:
·         sebagai wadah untuk bertransaksi baik jika Anda ingin meminjam sejumlah dana untuk mengembangkan bisnis, dan
·         sarana bagi Anda yang ingin berinvestasi dengan meminjamkan sejumlah dana dan berperan sebagai investor.
Apabila Anda memutuskan untuk menginvestasikan uang Anda dalam konsep peer to peer (P2P) lending, maka Anda akan berperan sebagai pihak pendana.

Sebagai investor, Anda akan diberikan akses untuk menelusuri data pengajuan pinjaman yang tersedia, termasuk informasi terkait pengajuan pinjaman seperti riwayat keuangan peminjam, tujuan peminjaman, pendapatan peminjam, dan lain sebagainya.
Jika Anda menemui pengajuan pinjaman yang sesuai dan setuju untuk menginvestasikan dana, maka investasi langsung terjadi saat Anda melakukan deposit sesuai tujuan investasi Anda. Uang yang diinvestasikan akan kembali kepada Anda setiap bulan berupa angsuran yang komponennya adalah pokok utang disertai bunga yang telah disepakati sebelumnya.
Apabila Anda adalah peminjam, maka Anda perlu mengunggah seluruh dokumen yang disyaratkan untuk mengajukan pinjaman uang online seperti laporan keuangan dalam jangka waktu tertentu dan identitas diri serta alasan peminjaman uang.
Status peminjaman Anda bisa saja ditolak dan diterima, jika ditolak maka Anda diminta memperbaiki segala hal yang menyebabkan penolakan tersebut dan jika diterima maka suku bunga pinjaman akan ditentukan dan pengajuan Anda akan diunggah ke marketplace. Marketplace merupakan sarana dimana pendana dapat melihat seluruh pengajuan pinjaman yang tersedia.

Aman kah Fintech Lending?
Sebagai peminjam atau investor sebelum melakukan sesuatu harus lebih dahulu melihat kelebihan dan kekurangannya. Begitu juga dalam Fintech Lending, dikutip dari Finansialku.com ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari Fintech Lending sendiri.
Sebagai Investor
Kelebihan :
  • Tidak adanya ketentuan jumlah pinjaman minimum sehingga Anda bisa berinvestasi dengan nilai yang kecil.
  •  Imbal hasilnya cukup menarik, Anda bisa memperoleh hingga 20% keuntungan mulai dari modal Rp3 juta.
  •  Keuntungan bisa mulai dirasakan mulai dari seminggu pertama sejak dana diinvestasikan.
  • Anda sudah turut berpartisipasi dalam membantu usaha kerakyatan yang digeluti pengusaha UMKM di pedesaan

Kekurangan :
  • Masih belum lengkapnya regulasi P2P lending di Indonesia oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga belum ada perlindungan konsumen.
  • Umumnya investor yang akan menanggung kerugian apabila kreditur gagal bayar atau menunggak.
  • Adanya risiko kebangkrutan platform pengelola P2P lending.
  • Investasi tidak dapat ditarik atau dicairkan di tengah jalan, berbeda dengan bank atau investasi logam mulia yang likuid.

Sebagai Peminjam :
Kelebihan :
  • Dengan riwayat kredit yang baik, Anda bisa memperoleh pinjaman dengan bunga yang lebih rendah dari pinjaman jenis lainnya.
  • Tidak adanya ketentuan jumlah pinjaman minimum.
  • Syaratnya lebih fleksibel dibandingkan bank, sehingga kerap dijadikan alternatif saat pinjaman ke bank ditolak

Kekurangan :
  • Ada kemungkinan suku bunga lebih tinggi dari pinjaman bank, terlebih jika riwayat kredit Anda buruk.
  • Umumnya terdapat sejumlah biaya yang ditetapkan oleh platform setiap Anda mengajukan pinjaman.
  • Karena konsepnya masih baru, umumnya belum ada perlindungan yang jelas layaknya pinjaman bank. 


Bagi millennial yang ingin meminjam uang lewat Fintech Lending sendiri ada beberapa tips juga dari Finansialku yang harus di perhatikan. Antara lain.

1.       Pastikan Perusahaan yang anda pinjam terdaftar di OJK.
Meski sudah ratusan platform yang bergelut dalam P2P lending ini, namun nyatanya hanya beberapa saja yang sudah mendaftarkan diri di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Untuk mengeceknya bisa di cek melalui situs OJK disini.
2.       Mengajukan Pinjaman Sesuai Kebutuhan
Banyak orang mengambil utang tanpa memikirkan konsekuensinya. Salah satu persepsi yang salah akan kredit atau pinjaman adalah bahwa uang tersebut dapat digunakan untuk memenuhi keinginan atau kebutuhan tanpa harus dikembalikan. Sayangnya, banyak orang yang masih gagal paham. Akhirnya hal ini menjadi kesalahan fatal bagi mayoritas debitur, yakni tidak memikirkan kemampuan membayar tagihan. Akibatnya ya terjerat utang berkepanjangan.
Untuk menghindari kondisi tersebut, OJK sangat menganjurkan bagi Anda yang ingin meminjam uang di fintech agar pinjaman yang diajukan sesuai dengan kebutuhan. OJK pun memberikan patokan maksimal sebesar 30% dari penghasilan yang didapat. Tujuannya, tentu agar memudahkan Anda dalam membayar tagihan setiap bulannya.
Saat Anda menerapkan sistem pinjam hanya sesuai kemampuan finansial, maka secara tidak langsung Anda belajar untuk menjadi debitur yang bertanggung jawab. Hal ini juga akan memberi dampak baik bagi Anda, karena akan membuat Anda tampak bertanggung jawab di mata bank. Dengan demikian akan lebih mudah bagi Anda untuk memperoleh kredit ke depannya. Selain itu, Anda juga akan meminimalisasi risiko utang yang semakin menumpuk. Ingatlah tidak peduli sebanyak apapun pinjaman yang bisa Anda peroleh, pinjamlah hanya jika Anda yakin bisa membayarnya. 
3.       Kenali Syarat dan Ketentuannya dengan Jelas
Seperti Anda ketahui, Fintech lending menganut skema peer to peer, sehingga tidak melibatkan bank atau lembaga keuangan lainnya. Oleh karena itu, syarat dan ketentuan di setiap platform-nya pun mungkin berbeda. Sebagai contoh adalah suku bunganya, denda pinjamannya, platform pinjamannya, dan sebagainya.
Saat Anda ingin mengajukan pinjaman (tidak peduli jenis pinjaman apapun), Anda sebaiknya mengenali seluruh syarat dan ketentuan pinjaman tersebut dengan jelas. Dengan demikian, Anda tidak akan menanggung risiko kerugian atau merasa dirugikan.
4.       Bayar Pinjaman Tepat Waktu
Perlu Anda ketahui, pinjaman biasanya dikenai bunga keterlambatan yang cenderung tinggi sehingga sangat berbahaya bagi keuangan dan riwayat kredit Anda. Dengan demikian selalu bertransaksi sesuai kemampuan Anda, dan lunasi tagihan secara penuh setiap bulannya. Kesalahan kedua yang paling utama dalam kredit atau utang adalah terlambat atau lupa bayar. Hal ini bukan hanya mempengaruhi jumlah utang Anda, namun juga mempengaruhi riwayat kredit (credit score) Anda. Misalkan jika Anda terlambat melunasi tagihan kartu kredit, maka Anda akan menanggung beberapa konsekuensi berikut:
·         Semakin menumpuknya utang atau kredit.
·         Munculnya biaya tambahan berupa denda atau bunga yang membesar akibat telat bayar.
·         Mempengaruhi riwayat kredit dalam jangka panjang yang akan mempersulit Anda saat membutuhkan kredit di masa depan
Dengan demikian, selalu catatlah batas pembayaran utang dan lunasi tepat waktu. Anda bisa menghemat banyak dan menghindari jeratan utang dengan cara sederhana ini.
5.       Hindari Gali Lubang Tutup Lubang
Pernahkah Anda mendengar kasus penyalahgunaan dana Umroh oleh pemilik First Travel (PT First Anugerah Karya), Andika Surrachman dan Anniesa Hasibuan?. Dengan penawaran paket-paket promosi paket Umroh murah, First Travel berhasil menggaet banyak calon jemaah kemudian melakukan penipuan dengan Skema Ponzi (Ponzi Scheme). Ponzi Scheme adalah modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan pada investor dari uang mereka sendiri, atau uang yang dibayarkan investor berikutnya.
Keuntungan bukan dari perolehan individu atau organisasi yang menjalankan usaha. Dengan kata lain, skema ini menggunakan sistem gali tutup lubang dengan menjanjikan keberangkatan pada jemaah Haji.
Nah, sistem gali lubang tutup lubang ini pun berbahaya saat diaplikasikan pada pelunasan utang. Sebagai contoh Anda mengajukan pinjaman lain untuk melunasi pinjaman yang tertunggak saat ini. Anda kemudian mencari pinjaman selanjutnya, dan begitu terus tanpa akhir.
Hal ini akan menjadi siklus tanpa henti dan malah berpotensi menyebabkan utang lebih banyak, terutama saat Anda tidak cermat saat memilih utang selanjutnya (bisa saja dengan suku bunga yang jauh lebih tinggi). Jadi, saat mengajukan pinjaman ingatlah untuk melunasinya dengan kemampuan finansial Anda alih-alih pakai sistem gali lubang tutup lubang.

Bicara tentang Fintech Lending yang terdaftar di OJK paling tidak telah memenuhi aspek perlindungan konsumen Sebagaimana diatur pada POJK77/POJK.01/2016:
1. Transparansi, pada pasal 30
2. Perlakuan yang adil , pasal 34
3. Keandalan (Keamanan Dana dan Keandalan Sistem) , pada pasal 24 dan pasal 28
4. Kerahasiaan Data , pada pasal 39
5. Penyelesaian Pengaduan dan Sengketa, pada pasal 40
6. Perjanjian Baku, pada pasal 36.
Nah, satu lagi nih tambahan yang harus diperhatikan oleh peminjam Fintech Lending, yaitu suku bunga, dari info-info yang ALIKA Grey dapet nih, saat ini belum ada aturan standart dari OJK tentang batas suku bunga Fintech Lending, karena masih fokus pada pengembangan Fintech sendiri.
Dikutip dari Republika, Kepala Ekskutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank, Firdaus Djaelani, “dengan mendorong industri untuk semakin berkembang dan lebih banyak perusahaan fintech, maka persaingan akan semakin ketat dan bunga akan diatur sesuai kompetisi yang ada. Kendati begitu, ia menilai bunga yang ditetapkan tidak akan terlalu jauh lebih tinggi dibandingkan perbankan”.
Ia mencontohkan pinjaman bank dalam setahun dikenakan bunga sebesar 12-14 persen, fintech kemungkinan mengenakan bunga sekitar 15-18 persen. Ia juga menilai, masyarakat yang butuh pinjaman cepat dalam waktu singkat juga tidak akan keberatan dengan bunga sebesar 1,5 persen- 2,0 persen.
Sementara itu untuk pinjaman lebih besar, atau proyek, umumnya perusahaan fintech akan meminta agunan kepada peminjam. Dengan demikian, akan ada manajemen risiko yang baik dan perlindungan konsumen. "Selain agunan juga prinsip know your customer (kyc) atau mengetahui data lengkap debitur atau peminjam,".
Nah, Millenial, udah taukan sedikit seluk beluknya, kalau mau jadi Investor, atau peminjam. sekarang pilihan ada di millenial untuk memanfaatkannya secara bijak.

  • Share:

You Might Also Like

16 Comments

  1. Sekarang kan kak oem, banyak kali SMS pinjaman yang sering masuk ke nomer pelanggan gsm.
    Ngeri2 sedap juga kalo sempat tergiur..

    Nyatanya sering gak terdaftar di ojk mereka..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya kak. Cari yg terdaftar dan bisa jaga kerahasiaan data pribadi. Katanya sih... beberapa aplikasi dan situs bisa curi data pribadi cuma dengan rehistrasi email

      Delete
  2. Resiko fintech lending karena bunga pengembaliannya besar tak jarang org mengembalikannya terlambat jadi dapat teguran deh, teman dan saudara kita pun di ancam juga ckck, mudah2an tidak trjadi pada fintech lending ilegal ya

    ReplyDelete
  3. Eh maksudnya legal kak *kurangaqua* nih :D

    ReplyDelete
  4. zaman milenia makin banyak ya sistem simpan pinjam online selain bank ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting saling menguntungkan kak 😆

      Delete
  5. Dengan adanya Fintech Lending, memberikan kemudahan untuk pinjam uang dengan aman di semua perbankan atau koperasi yang terdaftar di ojk. Tapi kalau bisa jangan ada pinjaman ya bang biar tenang. Hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiin bang. Keuntungan juga buat investor

      Delete
  6. Saya menghindari hal beginian,, tapi kalau komitmen bisa bayar tepat waktu ya gpp jg. Manatau keperluan mendadak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus terang saya juga termaksud yg menghindari.

      Delete
  7. Masih parno sama pinjol...
    Tapi thanks ya oem...baca artikel ini jadi tambah wawasan.

    ReplyDelete
  8. Ulasan tentang Fintech lending lengkap banget, jadi nambah deh wawasan.

    ReplyDelete
  9. High risk juga yah kalo jadi investor. Kerugian gagal bayar ditanggung sama investor.

    ReplyDelete