Pad Man (film review)

9:53 AM

Empowering woman, Cinta suami terhadap istri, dan Isue Kesehatan, mungkin itu tema yang bisa dibawa oleh film ini.
Pad Man berkisah tentang Laksmi (Aksay Kumar), seorang suami yang tinggal di sebuah desa tradisional India, baru menikah dan sangat mencintai istrinya. Saat pertama kali memperhatikan bahwa perempuan memiliki masalah bulanan, yang pada tradisi di daerahnya perempuan harus tinggal diluar dirumah, dan menggunakan kain yang terlihat kotor bagi Laksmi untuk membalut menstuasinya, laksmi yang melihat hal itu, merasa khawatir dan prihatin. Awalnya laksmi membeli pembalut untuk Istrinya, tapi harganya terlalu mahal sehingga istrinya menolak. Laksmi lalu mencoba membuat pembalut untuk istrinya dari bahan-bahan yang sederhana, tapi ternyata gagal, pembalut tidak mengerap dan malah mengotori saari Gayatri (Padhika Apte). Istri dan keluarganya menolak untuk mencoba pembalut buatannya, karena dianggap tabu jika laki-laki mengurusi “urusan perempan” dan Laksmi dianggap membuat malu masyarakat akan hal ini. Hal ini berujung pada perginya Gayatri istrinya, perginya Ibu dan saudari-saudarinya dari rumah, hingga akhirnya Laksmi meninggalkan desanya untuk bisa membuat pembalut yang sesuai, dan dengan harga yang murah.
“if, America have a superman, batman, and spiderman, so India has a Pad Man” (Amitabh Bhacan). Demikian akhirnya ucap aktor kawakan India tersebut saat Laksmi  mampu membuat mesin pencetak pembalut sederhana dan membawanya memenangkan penghargaan inovasi baru di India. Perkenalannya dengan Pari (Sonam Kapoor) seorang pemain Tabla yang menjadi pelanggan pertamanya, hingga akhirnya pembalutnya diterima oleh wanita-wanita desa. Rahasianya, “Hanya perempuan yang mengerti perempuan” Pari. Juga bagaimana ia memperkerjakan perempuan yang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga agar perekonomiannya lebih baik dan mandiri, dan membawa serta perempuan-perempuan lain agar ikut bekerja dengannya. Entah kenapa Pari dan Laksmi menjadi duet paling romantis di Film ini. Pari yang mampu membuka jalan hingga Laksmi mampu sukses dan diterima di seluruh India.
Film ini bagi saya sendiri cukup menyentuh. Bagaimana seorang suami bisa sangat peduli terhadap istrinya, bahkan melawan segala kebiasaan dan adat daerahnya. Bahkan dalam suatu adegan yang dimana Laksmi pada awalnya mencoba sendiri pembalut buatannya, dengan darah binatang yang dia beli dari tukang hewan, hingga akhirnya bocor di depan kuil dan  dia menjadi perhatian serta dianggap membawa aib bagi keluarga dan masyarakatnya. Diceritakan bahwa masyarakat India saat itu sangat menabukan masalah menstruasi, dimana saat menstruasi wanita datang, mereka harus tidur di luar rumah, dan dilarang bersentuhan dengan laki-laki tanpa kecuali  termaksud itu suami, bahkan siswi-siswi saat itu akan ketinggalan banyak pelajaran karena harus libur sampai lima hari setiap bulan karena masalah menstruasinya.
 “hidup itu masalah, jika hidup tidak ada masalah, maka matilah. Masalah memberi manusia kesempatan untuk hidup, dan India, penuh dengan masalah” begitulah ucap Laksmi saat pidatonya di PBB saat dia mendapat undangan istimewa. Laksmi, pria yang melawan budaya tabu bangsanya sendiri, pria yang di usir dari desanya sendiri, pria yang memecahkan masalah 55 rupee menjadi dua rupee. Pria yang memberi hidup wanita India lebih panjang dua bulan, dan pria yang juga mengatasi masalah ketenaga kerjaan perempuan di India.
Sebelum saya menonton film ini, sebenarnya saya telah lebih dulu jatuh hati pada peran Akhsay Kumar dalam film Toilet : Ek Prem Katha, jadi ketika seorang teman menyarankan untuk film ini saya langsung mencari tahu soal film ini. film ini sendiri dari info yang saya dapat merupakan karya produksi pertama PH  Aksay Kumar dengan Istrinya Twinkle Khana, mungkin kalau di Indonesia, mereka bisa disamakan kayak Alea-nya Ale sihasale dan sang istri dalam membuat film-film dengan tema sosial dari masyarakat daerah versi India.
Tokoh Laksmi sendiri berasal dari karakter asli Padma Shri Arunachalam Muruganantham (1962-sekarang), seorang socialpreneur, asal Tamil Nadu, India. Penemuan mesin pembuat pembalut berbahan baku murahnya tak hanya membawa beliau pada beberapa penghargaan lokal, bahkan pada tahun 2016 termaksud dalam 100 orang paling berpengaruh di India versi majalah TIMES
Pad Man, its Real India super heroes. Without super power.

  • Share:

You Might Also Like

18 Comments

  1. Replies
    1. Tengkyu kak. Slamat datang di halaman abu-abu.. 😊

      Delete
  2. Kalok perempuan rata2 kayak awak, pabrik pembalut bisa tutup karena lebih sering hamil daripada jadwal bulanan. Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ga akan bangkrut kok kak. Kalo anak yang lahir banyak perempuan pabriknya makin berkembang kayaknya 😅

      Delete
  3. Kata kata motivasinya buat aku jadi semakin bersyukur sama hidup

    ReplyDelete
  4. wih, inspirator banget ya si laksmi itu. Selama ini nama laksmi identik dengan perempuan tapi dalam film ini berbeda sekali. Keren

    ReplyDelete
  5. Film2 yang menggambarkan kehidupan sosial dan penemuan di dalamnya selalu sukses menginspirasi ya kan. Apalagi based on a true story. Nonton Padman jni ah ntar malam. Jujur untuk film India saya jarang sekali nonton.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru kak nonton film india. Sambil goyang2 gitu 😁. Walau durasinya panjang biasanya

      Delete
  6. Wah filmnya sungguh menginspirasi ya, mau nonton ah...

    ReplyDelete
  7. wuih.. mau nonton juga ah. mksh reviewnya. xixixi.. jarang2 laki2 suka film bollywood apalagi tema begini

    ReplyDelete
  8. Penggemar film india ya? Ini film kayaknya wajib tonton. Entah kenapa, film india bertema motivasi pasti keren2 semua

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia bang. Sebenernya yg jadi nilai plua lain karena film ini ga terlalu berat. Malah bisa dibilang komedi.

      Delete