Sebuah Cerita Teman L

9:48 PM

Saya akui, bahwa saya cukup banyak memiliki teman yang memiliki identitas dan ketertarikan seksual yang tidak biasa. Kebanyakan saya kenal dari komunitas, walau beberapa saya kenal dekat secara langsung.
Karena cukup dekat kadang saya tidak canggung ketika bertanya hal-hal pribadi kepada mereka. Termaksud tentang perilaku seksual mereka, sekedar penasaran. Khususnya tentang teman-teman yang lesbian.  Karena jujur saja. Walau menolak perilaku seks yang dilakukan sesama jenis. Masih ada cukup penasaran di benak saya bagaimana ketertarikan seksual diantara mereka dan bagaimana teman-teman saya memperoleh kepuasan secara sekaual dari pasangan mereka.
Kembali ke topik, teman saya (perempuan) yang kebetulan lebih dominan atau maskulin. Biasa teman-teman perempuan yang berpenampilan lebih maskulin ini sering di sebut dengan sebutan buchi sedangkan untuk teman perempuan saya yang lebih terlihat feminim biasa di sebut sebagai femme. Biasanya hubungan relasi ini kadang dapat dilihat dari penampilan atau peran dalam hubungan kekasih sesama perempuan. Ini juga menunjukkan siapa yang dominan dalam hubungan. Walau tidak selalu. Ada juga seorang teman yang berpendapat ini hanya relasi dalam varian hubungan seksual. Karena bisa saja seorang femme lwbih dominan dalam romantis mereka.
Nah. Karena kebatulan teman saya seorang Butchi yang dominan, maka dalam hubungan seksualpun dia lebih banyak mengambil inisiatif "menyerang". Menurut pengakuannya, dia biasa menyerang pada bagian-bagian sensitif pasangan. Mulai dari pemanasan, bagian leher, dada, sampai "peranakan". Biasanya dengan kecupan atau sentuhan.
Nah saat itu iseng saya bertanya, "nah, jika cowok biasanya ada penitrasi, kalau kalian".
Dengan tertawa-tawa teman saya menjawab "pakai ini kak", sambil menunjukkan dua  jarinya. Nah sampai disitu sebenarnya saya cukup mengerti. Bagaimana jari-jari bekerja merangsang titik-titik sensitif dalam vagina untuk menciptakan kepuasan.
"Lalu apa kalian dua-dua melakukan hal yang sama?"
Sambil senyum-senyum menahan tawa dia malah berkata. "Aku engga suka kak kalo digituin". Aneh aja rasaku kalau aku dimasukin". Jawabnya. Saya coba mengerti sisi maskulin teman saya ini, yang enggan kelaminnya dimasuki oleh pasangannya.
"Lalu kepuasan kamu darimana?" Tanyaku lagi.
"Aku kak. Liat pasanganku puas aja, udah puas kurasa".
Sebenernya agak sedikit aneh buat saya. Tapi menggelitik juga. Jika selama ini saya hanya tau bahwa hubungan seksual itu tentang bagaimana mencapai kepuasan masing-masing. Tak jarang teman laki-laki lebih mementingkan kepuasannya dahulu, tapi kurang memikirkan pasangan perempuannya. Hari itu saya belajar, bahwa memuaskan pasangan bisa menjadi kepuasan sendiri tanpa harus klimaks 😃

Salam Abu-abu Pastel

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments