(Review Buku) Seperti Dendam Rundu Harus Dibayar Tuntas

1:33 AM


“Di puncak rezim yang penuh kekerasan, kisah ini bermula dari satu peristiwa : dua orang polisi memperkosa seorang perempuan gila, dan dua bocah melihatnya melalui lubang di jendela. Dan seekor burung memutuskan untuk tidur panjang. Di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya”.


Jika ada yang pernah mendengar buku Dengan judul “Cantik Itu Luka” (2002), maka tak akan asing lagi dengan nama Eka Kurnawan, karena judul buku yang akan saya review ini juga lahir dari penulis yang sama.
Kali ini saya akan mereview buku ‘Seperti Dendam Rindu Harus di Bayar Tuntas’. Penasaran membaca novel Eka Kurniawan kembali sebenernya masih berhubungan dengan blog saya sebelumnya tentang Pram dimana buku pertamanya Eka Kurniawan membahas tentag Pram dalam skripsinya yang akhirnya di buat dalam buku dengan judul Pramoedya Ananta dan Sastra Realisme Sosialis (1999).
Baca _ : menulis Layaknya Pram.
Buku ini bisa dikatakan novel untuk dewasa. Karena ada peringatan 21+ di belakng bukunya.  So, tetep baca buku sesuai usia ya. Oke, secara keseluruhan buku ini sangat menarik, membaca buku Eka Kurniawan ini seperti membaca potongan-potongan puzzle yang dibuat dengan alur yang tidak biasa, dimana dalam tiap bab-nya kita dibawa dlam potongan-potongan sketsa yang membawa kita kedalam cerita yang utuh pada akhirnya.
Penamaan nama-nama tokoh dalam cerita ini juga sangat unik. Seperti Tokek, Iwan Angsa, Gembul, Ajo Kawir, dan Iteung, terdengar familiar, seperti panggilan, julukan yang biasa di pakai sehari-hari.  Juga yang Paling menarik adalah alur cerita dan bagaimana “burung” yang tertidur menjadi alasan bagaimana cerita-cerita dalam novel ini tercipta. Bagaimana konflik antara Ajo Kawir sang jawara kampung yang jatuh cinta dengan Iteung yang juga jawara, dan dengan masalah Impotensinya, mampukah dia membuat kekasihnya bahagia? Lalu ada lagi Jelita. Siapa dia?
Seperti yang saya jelaskan di atas, bagaimana “burung” (penis), membawa banyak cerita dalam kehidupan beberapa orang di sekitar Ajo Kawir yang menjadi tokoh pusat dalam novel ini. dialog-dialog absurd antara Ajo Kawir dan “burungnya” membuat novel ini lebih menarik dan membawa senyum saat membaca.
Membaca novel ini secara menyeluruh seolah mengajarkan bagaimana, kelamin menjadi otak kedua yang mampu mengatuk gerak manusia, bahkan lebih dari pada otak.
yang namanya review jangan banyak-banyak ya, takutnya jadi spoiler. 0h ia, buku terbitan Gramedia ini terbit di tahun 2014, dan sampai 2016 telah di cetak sebanyak empat kali, jadi bisa dibilang ini merupakan salah satu buku yang cukup laris bagi penikmat literasi.
Selain Cantik Itu Luka, masih ada beberapa novel fenomenal lagi karya Eka antara Lain, Manusia Harimau, “o”, Cinta Taka da Sedih, dan masih juga aktif di jurnalnya ekakurniawan.com

  • Share:

You Might Also Like

12 Comments

  1. Waduh 21 keatas ya om?
    kebaca pulak sama abegeh 17 tahun kayak sayah.

    ReplyDelete
  2. Berarti saya boleh lah baca ..

    Saya masih 20 tahun ke samping. Belum genap 21 kan.. 😂😂😂

    ReplyDelete
  3. Aq dah baca cantik itu luka,, yg ini belum,, bangkit imajinasi baca bukuw dia emang.

    ReplyDelete
  4. hahaha.. jadi benar lah ungkapan kasar disekitar teman2 klo ketemu laki2 yg isi otaknya sebatas isi celana..biasanya laki2 tu suka gk kreatif kehidupannya.. apakah didalam cerita ini begitu juga..jika isi lepalanya dikendalikan oleh si "burung" nampaknya hidupnya si tokoh dibuku ini monoton konflik wanita dan hasratnya..bener gk sih? hahaha

    ReplyDelete
  5. Karena reviewnya tidak panjang, Boleh pinjam bukunya bang? #eh

    ReplyDelete
  6. Karena reviewnya tidak panjang, Boleh pinjam bukunya bang? #eh

    ReplyDelete
  7. hmmmmm,....."burung" ya. duh, bingung mau ngomennya.Takut nanti sang empunya tersinggung dan "burung"nya sendiri ngambek. #eh

    ReplyDelete
  8. Ini nih penulis idola saya setelah andrea hirata mungkin. Saya udah baca lelaki harimau, eka kurniawan, dan O. Saya mau baca buku eka lagi, tp mungkin beli corat-coret di toilet dulu baru setelah itu seperti dendam rindu harus dibayar tuntas.
    Karya2 eka related sekali dengan kehidupan kita, mengangkat kisah2 masyarakat Indonesia yang sebenarnya lumrah, tp asing utk dibicarakan. Kalau novel yg direview ini, saya udah tau dr awal mungkin agak sedikit vulgar, tp kabarnya udah mulai difilm kan jg

    ReplyDelete