Berfikir Layaknya Pramoedya

3:35 AM

"Berfikir dan menulis layaknya Pram". Begitulah judul kelas menulis yang diadakan di Degil House pada 9 Januari 2019 lalu.
Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu penulis besar Indonesia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di penjara. 3 tahun pada masa kolonial, 1 tahun di masa orde lama, 3 tahun, dan 14 tahun di masa orde baru tanpa proses peradilan. Bahkan, setelah tidak terbukti keterlibatannya pada G 30 S PKI beliau masih dikenakan status, tahanan kota, tahanan rumah, juga wajib lapor hingga tahun 1999.
Karya-karya beliau sempat dilarang , bahkan dibakar karena pada masa orde baru karena dianggap menyebarkan paham-paham komunis dan leninisme. Walau demikian karya tidak berhenti, bahkan dalam gerak yang terbataspun karya-karya besarnya lahir. Diantaranya tetralogi Buru
(Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).
Seumur hidupnya beliau setidaknya telah melahirkan 50 karya yang telah di terjemahkan kedalam 42 bahasa asing. Bahkan katanya beberapa diantaranya menjadi bacaan wajib di lebih dari 15 negara, sayang, tidak termaksud Indonesia. Setidaknya lebih dari dua belas peghargaan internasional telah di raihnya, walau beliau masih di dalam masa tahanan. Bahkan menjadi anggota kehormatan PEN di berbagai Negara, antara lain Belanda, Australia, Amerika Serikat, Swedia, Swiss dan Inggris. Pada masa hidupnya Pram merupakan satu-satunya penulis Indonesia yang berkali-kali dinaubatkan sebagai kandidat Nobel Sastra.
Berfikir Layaknya Pram
Menurut Tengku Ariy Dipantara yang menjadi pemateri pada kelas menulis tersebut, karya-karya pram adalah karya yang jujur, dan ultra-realis. Pram dikatakan sebagai penulis yang mampu mendeskripsikan situasi tokoh seperti kondisi sebenarnya, tidak terlalu puitis dan nyata. Untuk mengenal pram setidaknya ada beberapa poin yang harus kita ketahui.
Pola pikir materialisme.
Pram dianggap memiliki pemikiran yang Materialis, sedikit berbeda dwngan materialisme ala Marx, pola pikir ini mengambil pola pikir yang semua berasal dari apa yang dilihat dan apa yang dirasa. Diibaratkan bahwa semua ide-ide Pram berasal dari pwngalaman-pengalaman hidupnya.
Feminism post Colonial
Banyak karya-karya besar Pram mengambil tokoh-tokoh dan sudut pandang perempuan Antara lain Larasati dan Gadis Pantai. Digambarkan bahwa tokoh-tokoh dalam karya Pram adalah tohoh-tokoh perempuan hebat dalam masa-masa kolonial dan juga setelah masa kolonial, mereka melawan dalam sistem dan kondisi saat itu.
Fakta Sejarah.
Karya Pram dapat dikatakan sebuah gambaran-gambaran sejarah Indonesia pada masanya, dan melihat dari sisi kelompok masyarakat kelas bawah, dan marginal, bukan dari sudut pandang golongan penguasa, bahkan ada penulis asing yang menganggap bahwa sejarah Indonesia terbaik pada masa post kolonial adalah tulisan Pram. Walau faktanya tulisan tersebut hanya sebuah novel.
Larasati
Sejujurnya, sebelum mengikuti kelas ini saya sendiri juga belum pernah membaca karya Pramoedya. Walau dulu saya termaksud aktif membaca, kebanyakan hanyalah komik-komik, cerita misteri ala Agatha Cristie, dan Sir Arthur Conan Doyle, cerita-cerita fantasi ala Harry Potter, atau fiksi-fiksi penuh moral ala Habibburrahman, Andrea Hirata, dan Tere Liye. Belakangan saya banyak melahap karya prosa,  fiksi bebas dari tumblr juga wattpad. Walau saya telah mengenal nama besar Pram sejak sekitar 2006 saat mulai masuk kuliah.
Karena ingin mengenal karyanya saya akhirnya meminjam Larasati, atas saran dari salah seorang teman "Jamaah Degiliah" (nama keren untuk para penghuni dan teman-teman Degil House yang sering kumpul disana).
Larasati atau yang dipanggil "Ara", berkisah tentang Larasati seorang bintang film terkenal yang berusia menjelang kepala tiga, seorang yang sangat mencintai Republik (sebutan untuk orang indonesia yang memihak pada revolusi melawan kolonialisasi NICA dan Belanda pasca proklamasi) dan melawan penjajahan NICA dengan caranya, sebagai seorang Perempuan dan juga seniman. Bahkan diceritakan dia juga ikut bertempur ke medan perang bersama para pejuang revolusi Republik, walau sering di gambarkan dia kalah melawan sistem yang saat itu ada dan tidak berpihak pada perempuan dan masyarakat kelas bawah.
Sedikit cerita, bahwa tiga point yang sebelumnya saya cerita sangat tergambar dalam kisah Larasati. Untuk penggemar kisah-kisah penuh tokoh penuh moral agama, atau romansa kelas atas kayak roman jaman Now, sepertinya ini bukan bacaan yang pas.
Tapi karena poin-poin diatas tersebut maka kisah karya Pram jadi sangat menarik, karena mungkin menggambarkan kondisi masyarakat saat itu.
Bagi yang berminat untuk membaca karya Pram yang lain bisa juga singgah ke Degil House di Sei Silau.
Review ini akan bersambung, karena kelas menulis "Berfikir Layaknya Pram" sendiri akan dibagi menjadi tiga sesi, diawali dengan mengenal Pram dan berakhir dengan praktik menulis layaknya Pram.
Salam Abu-Abu Pastel

  • Share:

You Might Also Like

24 Comments

  1. Saya belum pernah baca satu pun buku Pram kak oem.

    Tapi ada temen penggila Pram.
    Entah dia ikut entah enggak kelas ini.


    Kalo saya beranggapan, buku lebih hebat pengaruhnya nge-brainwash kita daripada film


    Misalnya nih..
    Buku ttg kisah cinta sesama jenis.

    Melalui tulisan, sang penulis bisa mentransferkan perasaan-perasaan dengan mengangkat sisi "kasihan" dan derita si tokoh utama sehingga kita merasa maklum dengan kisah cinta sejenis.


    Eh,, ini cuma pendapat saya yaks.. 😁😁😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Satu sisi saya setuju. Maka dulu banyak senior2 yg bergerak di dunia aktifis itu nyaranin baca buku Pram. Sampe2 jadi ditakuti di negeri sendiri.
      Tapi dari sini bisa juga liat sudut pandang orang lain.tapi kayak kakak bilang, bisa buat pembaca empati juga. Mungkin ini jadi ketakutan ORBA dulu.

      Bedanya.. buku Pram biasanya di gemari untuk yang cukup dewasa.
      Cukup aman lah.
      Sedangakan bacaan yang kakak contohkan... banyak d Wattpad. Dan yang baca bisa siapa aja tanpa bimbingan orang tua.

      Delete
  2. Saya jadi pengen mengenal si pram ini. Sekeren apa dia sebenarnya? *menurut versinya saya. Hehehe. Thanks for sharing kak.

    ReplyDelete
  3. Ternyata review nya bersambung ... Makin penasaran penontonnya dengan kisahnya, di Gramedia ada gak ya nak bukunya, mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak kok kak d gramed. Skarang udah dijual bebas kok. 😊

      Delete
  4. Bapak ku almarhum penggemar pram, tapi aku blom sempat kenal, hehhee baca tulisan ini kok jadi pengen kenal ya..

    ReplyDelete
  5. Saya juga belom pernah baca karya-karyanya pramudya...
    bacaan kita sama, agatha christy, jk rowling, enid blyton, sir arthur conan, detective conan heheheh candy candy upsss hihihi
    tapi buku-buku pram ini banyak kok saya liat di tempat nyewa buku cerita langganan saya dulu... cuma gak pernah pinjem

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ia ya kak. Mungkin karena belum kenal waktu itu 😁

      Delete
  6. Tokoh ini termasuk yang belum pernah aku baca walaupun banyak penggemarnya

    ReplyDelete
  7. Saya juga belum pernah baca karyanya pak Pram ini, semoga bulan depan bisa beli bukunya. Jaman dulu mah saya bacanya seri goosebumps, favoritt! Haha

    ReplyDelete
  8. Belum pernah baca bukunya tapi emang sekarang malah banyak yang cari lagi. sejak kemarin adiknya muncul di tv. mungkin krn penasaran 😅

    ReplyDelete
  9. Cukup baca yg tetra pulau buru, udah gimana gt rasanya,, sampai dipentaskan oleh teater bunga bangsa di jakarta, mungkin anak Medan mau mementaskan asal narasi dr buku ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keren kakak ini, udah baca tetralogi epic 😀

      Delete
  10. Dulu jaman Gacil SMP awak pernah baca bukunya yang kalau gak salah judulnya Bumi Manusia. Dan beberapa novel sastra lama. Karya2 sastra lama lebih merasa kak. Apalagi karya pram.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerwn gacil... aku zaman smp paling masih baca komik. Paling berat itu agatha cristie

      Delete
  11. Dialog yang dibawa pram itu membekas. Aku bingung kenapa ada yg bilang, membaca pram itu berat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. IMHO. Mungkin karena bahasa sastra lama dan pengaruh bahasa yang berubah. Jadi agak beda pandangannya kak ☺

      Delete
  12. Sering kali dengar nama Pramoedya ini,, kayakny ni orang keren kali gitu ,,,
    tapi gtw dia itu siapa,, dan bukunya juga gak pernah baca ,, ternyata keren bener ya

    ReplyDelete
  13. apakah ada sambungan kelas menulis selanjutnya kak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada... rabu lalu sama rabu depan terakhir 23/1. Kita bakal langaung praktek menulis. Bisa cek IG nya Degil House

      Delete
  14. pramoedya ananta toer..aq pernah terbaca nama.beliau..klo.gk salah waktu tu krn ada buku second dijual..tp jujur klo karya yg berat2 ane gk sanggup hahaha bacanya harus fokus 100% hahahha klo gk pasti lupa2 alurnya hahaha

    ReplyDelete
  15. Saya baru tahu ada beliau yang melegenda gini dalam skup literasi bahkan saya belum punya karya nya mudah -mudahan one day bisa punya..

    ReplyDelete
  16. Iya, sebelum membaca pram kita harus memahami dulu pola pikir beliau, kalau nggak ya bakal ngerasa berat membacanya. Saya belum pernah baca buku pram, tp seperti saya akan mulai dari Bumi Manusia dulu yang paling tersohor

    ReplyDelete