Curhatan tentang "Anjing"

5:38 AM


Saya akan cerita sedikit tentang cerita saya, teman saya,, dan adik teman saya. Dimana kita berdua saat ini 2018 sedang membuat sebuah usaha kecil-kecilan dengan modal yang juga kecil. Sebenernya, keuntungan kami cukup lumayan untuk diri sendiri dengan modal kecil, walau  menjadi cukup miris ketika kami memikiran kondisi keluarga kami.
Adik teman saya saat ini sedang kuliah di jurusan kedokteran di PTN di kota saya. Sebuah kebanggaan memang terdengar, tapi juga beban tersendiri, khususnya jika keluarga kami dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, khususnya secara ekonomi, dan keluarga broken home. Dia dan teman saya menjadi tulang punggung keluarga saat ini, khususnya untuk ibu dan juga adik mereka yang masih sekolah. sambil menunggu panggilan koas, dan berapa perbaikan mata kuliah makanya usaha cemilan kami di bangun.
Saat berjaga di counter usaha kami sering cerita banyak hal, salah satunya tentang keluarga masing-masing. Sebenernya teman saya ini masih memiliki satu orang saudara lagi yang telah menikah, dan memiliki dua anak.
Suatu kali adik teman saya bercerita, bahwa penghasilannya kadang harus di kirim untuk kakak iparnya, karena abangnya “Sedang Rusak” akibat narkoba, tak jarang, abangnya sebagai suami meminta uang pada istri yang tidak bekerja, karena kasian terhadap keponakan mereka yang masih kecil teman saya dan adiknya pun membantu seadanya, walaupun keadaan kami sendiri, bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Kami juga membantu keuangan ibu, karena memang tanggung jawab kami sebagai anak. Dan ibu yang sudah memiliki cucu, juga sering iba dengan kondisi tersebut, sehingga uang yang kami kasih tak jarang diberikan pula untuk cucunya, bahkan ketika anaknya yang pecandu datang meminta, itupun diberi. Kalian  tau rasanya, seperti beban seluruh keluarga di limpahkan di punggungnya.
Saat saya bertanya, “kenapa istri abang mu engga kerja aja?”. Jawabannya cukup mencengangkan “engga dikasih suaminya”. Seketika jawaban itu membuat saya emosi sendiri. Surga macam apa yang dicari dari kepatuhan istri? Jika suami cukup waras, dan menyadari tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga, wajar jika istri patuh dan hormat. Tapi jika suami kamu mabok, otaknya rusak dan penganguran, masih normal kah kepatuhan seperti ini. engga manusiawi buat saya, bahkan jika dia mempertahankan perkawinan hanya buat anak. mama Dedeh pun ketika ditanya, saya yakin beliau setuju jika disuruh cerai bila suami macam begitu.
Bayangkan seorang anak perempuan yang harus bekerja untuk kuliahnya, hidup sehari-hari, orang tua,  juga bahkan diperparah oleh kondisi abang ipar dan keponakan. Sering dia mengeluhkan untuk berhenti kuliah, tapi masih dia tahan karena memikirkan orang tuanya. Keadaan sebagai keluarga korban narkoba pun juga saya alami sebenarnya. Bagaimana kondisi orang tua saya jatuh akibat ulah adik saya. Itu membuat saya makin benci dengan narkoba.
Heran rasanya saat melihat fakta bahwa anggota keluarga yang menjadi korban narkoba lebih dibela daripada anak yang memiliki kecendrungan SOGIESC yang berbeda, anak gay, atau transgender cendrung di usir. Bisa jadi mereka yang akan menjadi tulang punggung. Sedangkan anak-anak yang otaknya rusak oleh drugs, dibela, walau perlakuan anak-anak ini kasar, bahkan cendrung kriminal. Mereka dibela meski di dalam bui, bahkan diharap segera kembali. Sedangkan yang lain, dipukuli, meski mereka bekerja agar di akui. Saya tidak tau mana yang lebih merusak buat kalian. Jadi jika ada diantara kalian bertanya kenapa saya lebih memilih berteman dengan teman-teman LGBTIQ kalian tau kenapa kan?
Saya tahu, jika membayangkan adik teman saya kalian akan kasihan. Tapi bagaimana jika saya katakan dia seorang lesbian. Apa kalian masih kasihan?


Anjink Para Pecandu

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments