Queers

10:22 AM




                Siapa yang engga kenal Diaz, cowok tinggi, kulit bersih, dengan rambut gondrong ikal sebahu, dari Fakultas Komunikasi. Anak-anak bilang sih dia ganteng, tapi ganteng-ganteng imut gitu, apalagi IPK nya semester lalu. Hampir diatas rata-rata teman sestambuknya, siapa yang engga jatuh hati coba. Salah satu yang sangat penasaran dengan Diaz adalah aku, Riana. Anak semester dua yang beda jurusan dengan Diaz.
                “Udah deh, kau nyerah aja, ga bakal bisa kau dapat.” Ucap Putri, sahabat dekat di kelasku, sambil menyerumput jus semangkanya di kantin kampus saat istirahat menunggu mata kuliah berikutnya.
                “Mending kau terima tuh, si Rama anak jurusan Managemen. Kurang apa coba si Rama, tongkrongan ke kampusnya sedan terbaru, tampang lumayan, bodi?!, lumayan lah, tapi yang penting engga ‘sakit’”. Tambah Ning. Yah, heran ya punya teman kasih semangat kek, bukannya jatuhin mental gini. Tapi begitulah komentar kawan-kawanku ini kalo aku sudah membahas tentang Diaz, senior kami yang dua tahun di atas kami. Sesempurnanya diaz, banyak yang mengatakan bahwa dias itu “sakit”, bukan dalam arti sakit secara fisik, ataupun mental, tapi lebih secara orientasi.
Sekilas jika kita mengenal Diaz dia memang berbeda dari teman-teman laki-lakinya. Diaz tak terlalu banyak bicara, dia lebih sering ditemui di perpustakaan atau café tempat dia bekerja. Kadang dia berkumpul dengan teman-teman sejurusannya, yang entah kenapa dia lebih sering terlihat dengan teman-teman perempuannya dari pada laki-laki. Kalau pun ada itupun sesekali saat baru bubaran kelas.
                Yang paling membuat curiga adalah jika dia berkumpul di kantin,  dia dekat dengan geng paling engga biasa di kampus, aneh. Gimana engga aneh ya, ada gitu mahasiswa yang kulitnya ngimbangi aku, trus rambut sepundaknya, ngimbangi halus rambut aku, untung aja masih cakepan aku, tapikan sakit ada mahasiswa yang buat minder banyak mahasiswi gara-gara lebih oke. Belum lagi mahasiswi paling galak, dengan rambut bondol yang gayanya ‘lakik’ abis. Cewek yang gayanya buchi kalo kata temenku, juga dua cowok cakep bak pragawan yang jelas-jelas pernah ngaku ga doyan cewek. Kalo udah gitu, siapa yang engga curiga dengan dia.
                Tapi bukan tanpa alasan jika aku masih memperhatikan Diaz walau banyak gossip di sekitar Diaz. Dimataku, Diaz itu tipikal cowok kampus, keren dan unik, walau kadang gesturnya rada kemayu gitu. Aku pertama kenal Diaz waktu PMB, dia kebetulan jadi salah satu panitia waktu itu. Anak SMA baru tamat mana sih yang enggak kesem-sem sama senior cakep, rambut gondong di ikat ke atas, ala-ala samurai Jepang, celana rip jeans sobek dilutut, dan converse yang beda warna kanan dan kiri, gimana engga unik coba, dan anehnya udah beberapa kali aku merasa seperti Diaz mencoba mendekatiku.
Aku merasa pertama kali terjadi pada saat hari terakhir inagurasi kampus, waktu itu hujan turun dan membasahi sebagian besar peserta yang harus ikut baris dan mengikuti permainan di lapangan yang becek. Alhasil saat pulang banyak dari kami yang dalam keadaan basah. Diantara banyaknya MABA (mahasiswa baru) yang ada entah kenapa, saat itu Diaz menawarkan tumpangan pulang dengan motor matik model retro-nya. Dia berbaik hati meminjamkan almamaternya utuk menutupi kemeja ku yang basah, membuat baju dalamku terlihat menerawang. Siapa yang engga melting coba dapet perhatian gitu. dari situ juga kami mulai bertukar kontak.
Awalnya aku banyak bertanya masalah kampus dan MKF (mata kuliah fakultas) dan Diaz selalu menjawab dengan jelas, bahkan menawarkan untuk meminjam beberapa bukunya yang sudah lulus dari mata-mata kuliah awal. Tapi perhatian Diaz lebih dari itu. Beberapa kali dia juga membantuku menyelesaikan tugas kampus, karena itu pula nilai-nilaiku terbantu pada semester awal.
Diaz juga pernah mengajakku jalan beberapa kali. Walau sekedar mencari buku, melihat festival seni lokal, atau konser musik Indie. Entah mulai dari mana disitu aku mulai mampu mengenal Diaz sedikit. Diaz itu anak yang supel, dia mampu  untuk masuk di kelompok manapun yang dia suka, walau tak banyak bicara, tapi dia punya banyak pengetahuan dan pola pikir yang menarik dibalik gayanya yang nyentrik. Diaz mungkin terlihat cuek, tapi dia adalah pemerhati dan pendengar yang baik bagi teman-teman bicaranya. Dan entah sejak kapan akupun mulai menyukainya, mengabaikan gayanya yang tidak biasa, juga gestur tubuhnya yang terkadang “kemayu”, walau gossip tentangnya kadang sedikit mengusikku.
Tapi sebulan belakangan Diaz mulai menjaga jarak. Aku tidak yakin, tapi kemungkinan itu sejak sebulan yang lalu. Saat aku dan Diaz jalan di salah satu mall, siang itu memang kami berencana untuk mencari notebook baru untukkku setelah aku mendapat kiriman dari Ayah yang tinggal di kota berbeda dariku. Aku mengajak Diaz hari itu, Diaz yang memang ada janji di mall yang sama mengaminkan ajakannku.
“Kamu dimana?” tanyaku.
“Aku di Café Forest, bareng Tasya, Jimmy, dan Rea” jawabnya saat aku chat tak lama setelah aku sampai lokasi. Ketiga nama yang di sebut adalah teman-teman Diaz yang juga satu kampus denganku. Tasya itu sebenernya seniorku di jurusan yang sama dia setahun di atas Diaz dan mengaku transgender, Jimmy sendiri dari keterangan Diaz pernah jelas-jelas mengaku dirinya Gay, sedangkan Rea sendiri, satu stambuk denganku, yang sering di juluki “Cewek Ganteng”. Karena gaya rambut dan pakaiannya yang sering kayak cowok.
Sesampainya di depan Café Diaz langsung keluar menghampiriku, setelah izin dengan teman-temannya. Bukan aku tak mau menghampiri dia dan temannya di café, tapi seperti yang aku sebutkan sebelumnya, Diaz mengerti rasa engganku untuk dekat dengan teman-teman “anehnya”.   Kami berkeliling dan menanyakan beberapa store yang menawarkan berbagai macam tipe, Diaz cukup aktif untuk menanyakan spesifikasi-spesifikasi serta keunggulan dari tiap tipe, dan yang pasti harga. Walau aku tak terlalu mengerti tapi kami hari itu banyak berdiskusi tentang pilihan terbaik yang dapat di beli. Setelah memutus kan slah satu aku dan Diaz berkeliling sebentar.
“Diaz…”. Teriak seseorang, Diaz dan aku yang mendengar melihat ke asal suara. Suara yang berasal dari seorang pria yang kutaksir seusia Diaz, yang sedang menggandeng seorang perempuan yang terlihat cantik dan sangat feminim.
“Jo..?” Diaz sepertinya mengenal pria tersebut dari senyumnya. yang menghampiri Diaz dan saling berjabat tangan
“Hei, si banci gandeng cewek sekarang. Tapi engga mungkin lah ya, lu kan engga doyan. Hehehe…” rocosnya tanpa henti. Aku sendiri entah kenapa sakit hati mendengar ocehnya. Seketika mataku melihat kearah Diaz, dia hanya tersenyum, seolah memaklumi semua kata-kata temannya.
“Eh… kau ngapain disini?” mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Biasalah, weekendquality time sama pacar. Oh ia kenalin” Teman Diaz yang di panggil Jo tadi pun memperkenalkan teman wanitanya yang bernama Cia, aku pun juga ikut memperkelankan diri pada mereka. “Oh ia, kau mau ikut gabung? Kebetulan aku baru mau makan bareng Cia”.
“Ga usah Jo, baru siap kami. Aku mau antar Riana pulang ni.”
“Oh, yaudah kami jalan dulu ya”. Pamit Jo. Sekilas setelah berjalan beberapa langkah aku masih mendengar percakapan Jo dan Cia, yang mempertanyakan orientasi Diaz, juga penampilan Diaz yang dianggap aneh, sambil bergandengan mesra. Kenapa sih dengan mereka kayak udah bener aja, umpatku dalam hati.
“Kamu enggak sakit hati di bilang begituan” tanyaku sambil berjalan menuju parkiran.
“Udah biasa, dari dulu mulut Jonathan emang sarkas gitu. Ngomong engga pake rem.” Jelasnya. “dia temen aku pas SMA, udah bareng sejak kelas 12”.
“Ya tapi kamu masak engga marah sih di bilang gitu, engga kayak laki, tau engga.” Dalam sepersekian detik aku dapat melihat raut wajahnya berubah tapi kemudian dia mencoba menutupinya.
“Engga ada manfaat juga lawanin mulut dia.” Sambil menyerahkan helm padaku.  Diaz hari itu mengantarku pulang seperti biasa. Aku duduk sambil menyentuh punggungnya, punggung yang lebar, dan hangat, walau aku merasa otot dan postur tubuh diaz itu kecil dan kurus. Mungkin akan nyaman jika suatu saat aku ingin bersandar. Tapi mungkin dia engga butuh ada yang bersandar padanya, fikirku.
Sejak saat itu Diaz jarang menghubungiku, kami hanya sering berpapasan di kampus, itupun hanya sekedar saling menyapa. Diaz, masih menjawab setiap pesanku walau hanya sekedarnya. Seperti sekarang aku duduk dengan dua sahabatku, dan dia teman-teman anehnya duduk di ujung ruangan sambil mengerjakan sesuatu, atau mengobrol sesuatu, dan terkadang bercanda dengan temannya. Kadang aku masih melihat Diaz melirikku, sambil tersenyum kemudian kembali fokus ke teman-temannya.
“Kau kalo penasaran tanya langsung aja kenapa sih?!” Putri membuyarkan lamunanku.   
“MAU tanya gimana? Kak kamu beneran homo ga sih?” Jawabku. “Males ah, nanti dia tersinggung”.
“Ya dari pada kau penasaran gini”.
****
Dua minggu sejak aku terakhir kali memandang Diaz di kantin bersama Putri dan Ning. Diaz tidak menghubungi sama sekali, hanya menegur saaat berpapasan. Aku masih merasa dia menjauhiku. Tapi aku biarkan karena itu pilihannya bukan. Tapi rasanya ada persekongkolan oknum hari itu, yang memang ingin mempertemukan aku dengan dia.
“Riana” panggil seseorang saat aku melewati jurusan komunikasi, ernyata itu Rhea. 
“ya Re?”
“Kamu ada kelas lagi ga abis ini? bisa bantuin aku?”
“Engga, bantuin apa?”
Rhea menyerahkan sebuah amplop putih kepadaku. “Bisa mintak tolong antar ke kak Diaz? Aku ada kelas abis ini sampe sore”. Jelasnya.
“ini apa Rhe?” Tanyaku penasaran.
“Oh, ini surat izin sama tiket ke Makasar. Dia dapat beasiswa dan juga undangan buat datang ke seminar nasional untuk issue gender dan Aids”. Jelas Rhea “Oh ia, Diaz lagi ada di Café depan Gerbang dua, kalua udah sampe sana kau chat aja. Masih ada nomer Diaz kan?”
“Masih kok”.
Aku pergi ke Café yang dimaksud, café tempat Diaz part time selama ini, tetapi ketika aku sampai disana Aku melihat Tasya dan Jimmy sedang memeluk Diaz bergantian. Kemudian mereka bergantian saling cipika-cipiki. Aku yang mematung memandangnya ternyata disadari oleh Diaz, dan aku reflek langsung lari dari situ.
Diaz menarik tanganku, ternyata dia mengejarku “kamu kenapa kemari?”. Tanyanya.
“Aku… mau ngucapin selamat ke kamu.” Lalu aku mengeluarkan amplop dari tas yang dititpkan oleh Rhea. “Sama antar ini”. dan meyerahkannya ke Diaz.  
“Terus… kenapa lari”. Tanyanya. Aku diam “Ayo balik kesana dulu”. Diaz menarikku kembali ke café. Lalu kami memilih duduk di salah satu meja yang sedikit jauh dari teman-teman Diaz berkumpul.
“Ada yang mau kamu tanyakan?”, aku mengangguk kadang aku benci pada sifatnya yang seolah bisa membaca fikiranku.
“Kamu….., gay…. Bukan sih?” dia tersenyum. Tapi kemudian dia kembali memasang wajah serius.
“aku tau kamu masih semester dua, tapi kamu udah pernah masih kelas gender belum sih?” aku menggeleng mendengar pertanyaannya. Kenapa di saat seperti ini dia malah nanya masalah kuliah sih. Nyebelin kan.
“aku queer, sejak kecil udah ngalami gender dysphoria, kadang aku ngerasa aku kayak terjebak di tubuh yang salah. Aku juga suka banyak hal yang adikku Nayla suka. Tapi aku juga sadar bahwa aku lahir sebagai laki-laki satu-satunya dalam keluarga, dan aku menerima diriku sebagai laki-laki tapi juga menolak karena aku sadar, aku sedikit berbeda dari teman-teman laki-lakiku, karena itu kalo di tanya genderku apa aku lebh suka bilang aku queer”
“aku engga ngerti sama kuliah kamu, yang pengen aku tau kamu suka laki-laki engga?”
“engga, aku engga ngalami perubahan orientasi.”
“terus..?”
“aku sukanya kamu” jawabnya sambil tersenyum.
“cie…. Cie..” ejek Tasya yang kini ada di belakangku.
“ehem…. Ehem…” entah sejak kapan dua orang teman Diaz ini ada di belakang ku. Perasaan beberapa menit lalu mereka masih berada jauh di meja mereka. “jawab gih, kalo ga, Diaz gua gebet” goda Jimmy bernada mengancam.
“enak aja kau homo, aku juga pengen kali. Lumi kan, ada yang bisa bantu ngerjain tugas, nemenin jalan, bantal eike kalo lagi sepi”
“emberan cyiin, tau aja banci barang bagus”
“oke, bakal aku jawab. Tapi aku pengen tau kenapa kamu ngilang belakangan.” Tanyaku pada Diaz yang mulai tak tahan dengan godaan pengganggu di belakang.
“itu, karena aku tau kamu engga nyaman sama temen-temen aku, kamu juga engga nyaman denger orang bicarain aku.” Jawabnya. “jadi aku mencoba mundur kemarin, aku engga mau kamu juga di omongin nantinya kalau dekat aku”.
Jawaban yang membuat aku sadar, bahwa dia adalah orang yang memang mengerti aku.    

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments