Jika Teman Saya LGBTQ, Terus?

9:51 PM


Saya sering membaca banyak artikel aktifis gender yang menulis tentang kekerasan dan persekusi terhadap kelompok LGBT. Dimana banyak anggapan bahwa kelompok ini kadang dianggap “penyakit” dalam masyarakat. Tapi mereka lupa bahwa kelompok ini juga penduduk negara yang memiliki hak yang sama, mereka lupa bahwa kelompok ini juga merupakan umat suatu agama yang juga harus di hormati, mereka lupa bahwa setiap manusia memiliki hak hidup yang sama.
Tetapi diluar itu saja juga bagian dari kelompok umat beragama yang khawatir, terhadap perilaku LGBT. Disini saya baris bawahi, yang saya khawatirkan adalah perilakunya, bukan personalnya. Saya juga bagian dari orang tua yang khawatir jika ada perilaku LGBT di dalam keluarga saya. Namun, namun perilaku seperti apa? Harus saya perjelas perilaku yang saya tekankan disini adalah perilaku yang mengarah pada kegiatan seksual khususnya di media publik.
Saya pribadi tidak akan terlalu mempermasalahkan dengan identitas gender seseorang, baik itu laki-laki, perempuan, transgender  ataupun queer. Karena saya adalah jenis orang yang menganggap bahwa itu hanya sekedar identitas, dia nyaman dengan dirinya, identitasnya, maka saya harus menghormati pilihannya tersebut. jika saya menghujat kelompok minoritas tertentu, saya tak jauh beda dengan negara maju adidaya yang menganggap agama saya teroris. Tidak adil rasanya menghukum sekelompok orang yang hanya karena perbuatan orang-orang tertentu yang kebetulan merupakan bagian dari kelompok tersebut.
Beberapa perguruan tinggi sendiri di negeri ini juga melarang adanya LGBT di dalam kampus, jika yang dimaksud adalah aktifitas atau perilaku jelas harus dilarang, tetapi jika hal tersebut dalam bentuk edukasi atau pemahaman missal masalah gender dan seksualitas, kenapa harus dilarang. Saya meyakini, pendidikan gender dan seksual sendiri dapat menjadi solusi pencegahan perilaku seksual yang sering di anggap menyimpang, dan penyebaran penyakit seksual. Tetapi kemudian komunitas ini dibatasi hak pendidikannya, bagaimana mereka mampu untuk hidup dengan lebih baik. Bersyukur jika kemudian mereka mampu mengembangkan keterampilan tertentu dan hidup dengan mata pencaharian informal. Jika tidak, maka besar kemungkinan mereka menjadi penjual kenikmatan dari tubuh mereka.
sex its something addicted”, sama kayak narkoba, perlunya edukasi tentang ini juga menjadi salah satu andil dalam pencegahan perilaku sex menyimpang, tidak hanya pada kelompok LGBT, juga terhadap kaum cisgender dan heterosexual. Tetapi pendidikan ini sering dikesampingkan karena dianggap tabu, lalu akhirnya pelaku mulai mencoba-coba, dan susah untuk lepas. tapi jika kita telah mengetahui resiko dan dampak buruknya, maka perilaku beresiko pun dapat dicegah sejak usia dini. Tidak sekedar kenapa dilarang, karena itu larangan Tuhan. Tetapi jelaskan apa dampak buruk dari perilakunya. bukan salahkan kelompok manusianya. Begitupun dibiang pekerjaan, kelompok minoritas cendrung dibatasi Karena dianggap menyimpang, padahal mereka sama dengan orang normal jika diberi kesempatan, mereka memiliki kemampuan yang sama dengan masyarakat cisgender pada umumnya.
Seperti yang saya tekankan sebelumnya, yang perlu diantisipasi disini adalah perilaku bukan kelompok tertentu. Saya contohkan saja jika di suatu daerah menggerebek kedalam kosan atau kontrakan yang ditinggali oleh pasangan yang diduga merupakan pasangan sejenis. Jika demikian, maka pasangan diluar nikahpun dapat menjadi korban, bukan kemudian menjadi pemakluman atau di wajarkan. Dan itupun harus didasarkan pada bukti, bukan sekedar asumsi, karena dia pecinta sejenis, kemudian teman sekamarnya merupakan pasangannya. Seharusnya yang menjadi masalah disini adalah “perzinahannya” bukan orientasi, ataupun identitas seseorang.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments