Identitas Gender bukan Orientasi Gender

10:05 PM


Jika kita mengenal identitas gender seperti Laki-laki, perempuan, transgender, dan queer. Makan kebanyakan dari kita akan menjeneralisasi saja apa orientasinya, misalnya jika dia laki-laki maka pasti dia akan meyukai perempuan, begitupun perempuan, akan menyukai laki-laki. Generalisasi ini pun juga berlaku pada kelompok trans, orang akan menganggap seorang transpuan akan menyukai laki-laki, begitupun transpria, akan menyukai perempuan yang terlihat feminism.
Sesungguhnya pengeneralisasi ini sendiri terlalu tidak tepat, identitas gender seseorang tidak menentukan kemana orientasinya, laki-laki bisa menyukai sesame, begitupun perempuan. Seorang transgender pun belum tentu menyukai gender yang berbeda, bisa saja dia juga menyukai gender yang sama. Missal seorang transpuan bisa saja masih menyukai perempuan, atau sebaliknya.
Pada kelompok crossdresser sendiri, khususnya pria pelaku crossdressing, banyak dari mereka yang masih menyukai lawan jenis mereka, dan bahkan memiliki keluarga normal, walau demikian banyak juga diantara mereka yang secara diam-diam tertarik kepada pria atau transpuan.
Saya sendiri sebagai crossdresser melihat perilaku crossdressing sebagai bentuk ekspresi gender mereka. Karena itu banyak dari crossdresser melakukan aktifitasnya secara rahasia, karena dia memiliki ekspresi gender yang berbeda dengan identitas gendernya. Stigma miring yang menyamakan pelaku crossdress dengan trans juga menjadi ketakutan tersendiri. Belum lagi anggapan bahwa pria yang berekpresi seperti wanita tak jarang mendapat bullyan atau gunjingan.
Selain sebagai bentuk ekspresi, ada sebagian crossdresser dimana menjadikan crossdressing sebagai bagian dari fantasi seksnya, banyak pula diantara mereka ini melakukan crossdressing untuk merasakan fantasi seksual menjadi lawan jenis, misal seorang crossdresser pria ketika bercrossdressing, dengan tujuan melakukan ingin hubungan seksual dengan laki-laki, dan membayangkan dirinya sebagai seorang wanita. Lalu ada pula pelaku crossdressing yang membayangkan dirinya seorang wanita, dan ingin bercinta dengan wanita lain (lesbian).
Pada kasus yang sering ditemui biasa pria atau wanita dengan ekspresi gender yang bertolak belakang sering menjadi bahan gunjingan, atau bullyng. Tak jarang gujingan-gunjingan tersebut menyudutkan orientasinya. Bahkan jika candaan-candaan ini dilakukan di ranah public atau di muka umum. Saya sendiri yang pernah mengalami gender dysphoria juga pernah mengalami candaan-candaan seperti ini, dan saya cukup bersyukur mampu menyikapi masalah saya dengan positif tanpa despresif.
Thailand sendiri telah membagi orientasi seksual ini menjadi 18 macam.
   
Sebenarnya macam tersebut tidak hanya ada di Thailand, tapi di banyak negara termaksud Indonesia. Tapi kita lebih suka menjeneralisasikan dan menyimpulkan sesuatu tanpa bertanya atau membuktikan hal tersebut benar atau tidak.
Semoga tulisan kali ini cukup bermanfaat dan berfaedah buat di baca , syukur-syukur jadi pelajaran buat kita.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments