Genderless Culture di Jepang

11:04 PM

Maraknya trend Genderless Danshi di Jepang, idol tampan ini angkat bicara soal identitas diri dan pengalamannya selama menjadi artis top. Toman, salah satu member idol XOX (Kiss Hug Kiss) dan model ini sangat dikenal di Jepang terutama di kalangan remaja perempuan. Artis yang melekat dengan identitas ‘Genderless Danshi’ atau ‘Genderless Kei’ saat ini sedang naik daun berkat gaya berpakaiannya yang menjadi sorotan banyak media. Belum lama ini, Toman diliput secara eksklusif oleh The New York Times seputar kehidupannya menjadi trend Genderless kei / danshi di Jepang.
XOX (Kiss Hug Kiss) merupakan sebuah idol group asal Jepang yang terdiri dari lima orang, yaitu Toman (leader), Riku, Batusing, Tsubasa, dan Sadao, yang kelima anggotanya adalah model. Idol group ini memulai debut pada tahun 2015 lalu dengan single perdana mereka, ‘XXX’. Nama idol ini ternyata semakin melejit sejak Toman memutuskan untuk menjadi seorang Genderless danshi.
Pria kelahiran 14 September 1993 ini memang memiliki wajah sangat ikemen dan sangat kawaii dalam satu waktu. Maka dari itu, ia sangat cocok memakai pakaian baik pria maupun wanita. Apalagi dengan gaya make up yang mumpuni membuat banyak sekali wanita yang iri dengannya.
Menurutnya, semua orang dapat melakukan apapun yang mereka mau tanpa harus merasa terbatasi dengan jenis kelamin. Laki-laki dapat melakukan apapun layaknya seorang wanita, memakai riasan, mengecat kuku dan sebagainya. “Saya pikir jenis kelamin bisa saja ada, namun saya itu tidak harus ada,” ungkap Toman.
“Saya bukan hanya memakai pakaian wanita ataupun mencoba menjadi seorang wanita, namun saya ingin bisa memakai pakaian apapun tanpa ada halangan gender,” lanjutnya.
Toman saat ini tinggal di Perfektur Miyagi. Ia dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang merupakan seorang desainer. Sejak kecil Toman telah terbiasa memakai pakaian yang berbeda. Meskipun begitu, Toman sering menemukan kesulitan dalam berdandan atau menyocokkan pakaian yang sesuai. Ia dan para Genderless kei / danshi lainnya sering merasa malu ketika berhadapan dengan orang lain. “Gaya berpakaian orang-orang Jepang masih kuno. Mereka masih memegang paham lama tentang batasan pakaian laki-laki dan perempuan,” ujarnya.
Trend Genderless kei / danshi di Jepang memang masih dianggap tabu oleh sebagian orang, terutama bagi orang tua. Bahasan ‘pakaian laki-laki dan perempuan’ yang masih dianut membuat para Genderless kei / danshi merasa kurang nyaman dan dihargai. Hal ini juga cukup menjadi viral di negara lain. Banyak media yang mengangkat topik ini dan cukup banyak mendapat tanggapan netizen.
“I love this I’ve been genderless and androgynous since forever I’m glad it’s being documented and these teens are being themselves and comfortable 👏👏” – Malibu-Dior Mitsugami via Logo
“OMG I LOVE HIM!! he inspires me to not be afraid to express myself with fashion and makeup. I hope to be as beautiful as him one day!! ( ´ ∀ `)ノ~ ♡” – Dominick Pez
“I went to check out a few videos of Toman and most of the comments are overwhelmingly negative. It has nothing to do with how he looks, but it’s based on his personality. Apparently on twitter he makes condescending remarks and use to bully classmates.” – Mimzy Marin
“This is amazingly inspirating for me… I´m really moved to do something. I don´t know what but something. This is exactly the way I think, the way I feel it. I´m so happy that they´re doing what they´re doing. I hope one day world will really change to better.” – Natalia N
“The only way gender is important is medically as a male body and female can have different diseases. Otherwise it really doesn’t matter and people can be whatever they want to be.” – SillyLily Ana.
“We don’t even need to label it “genderless” although I understand that doing so is helpful to get a message across. A message I support. Let’s stop being so narrow minded & allow individuals to decide their identities for themselves without discrimination.” – Herbst Fluss via SBS PopAsia.
Pengakuan lainnya datang dari Takashi Marumoto, manajer Toman yang telah bekerja olehnya sejak tahun 2014 silam. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap tubuh Toman yang sangat kurus. “Berat badan Toman hanya 38 kilogram, sangat kurus. Dan dia harus merawat kuku dan tampil layaknya perempuan.”
Menurut Takashi, sangat sulit ketika kita hidup menjadi diri sendiri di Jepang, dimana begitu tingginya standar seseorang untuk hidup seperti orang-orang pada umumnya. Mereka harus kuliah di kampus bagus dan juga mendapatkan pekerjaan yang bagus pula.
Meskipun begitu, Toman tetap optimis dan berusaha untuk percaya diri pada pilihannya menjadi Genderless kei / danshi. “Saya ingin melanjutkan hidup dengan gaya saya sendiri, percaya diri dan menjadi diri sendiri.”

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments