Joana Notes

7:23 AM

Beberapa tahun yang lalu, saat masih aktif d saya sempat ngeliat tentang crossdresser. Yang sebenernya saya kutip dari note fb seorang teman.
Sebenernya bukan karena apa. Hanya sedikit malas pada saat itu (dan juga kini) untuk membuat penjelasan ulang. Penjelasan yang sedikit banyak menjelaskan tentang saya sendiri. Hitung2, untuk mengenal dan memperkenalkan jati diri saya yang lain.

Joana Notes

Hi gurls!
Aku adalah seorang lelaki pelaku silang-busana alias crossdresser, sebut saja Joanna (bukan nama sebenarnya) :P
Aku sendiri udah melakukan hal ini dari masih kecil, bahkan sebelum aku masuk TK. Memori yang paling jauh yang masih bisa aku inget dengan jernih adalah saat aku waktu itu masih sekitar umur 4 tahun. Alat crossdressingku waktu itu adalah bantal. Yup, bantal! Aku tiduran telungkup di kasur, dan bantalnya aku letakkan di punggung bagian bawah, dan aku membayangkan kalo aku adalah Minnie Mouse dengan dress merah dengan polkadot putihnya itu, dan bantalnya aku bayangkan sebagai pita besar yang ada dibelakang, diatas bokong (bodohnya, baru belakangan ini aku perhatikan bahwa si Minnie Mouse ternyata pitanya ada dikepala, dan bukannya di dressnya -_-). Ya, aku emang aneh. Aku crossdressing dan berpura-pura menjadi seekor tikus yang bisa berbicara.
            Aku sendiri ngga tau/ngga inget kapan dan kenapa aku mulai crossdressing. Samar-samar, memoriku bahkan menunjukkan bahwa aku bahkan mungkin mulai crossdressing saat aku lebih kecil lagi daripada umur 4. Untuk kenapanya, apakah mungkin bawaan sejak lahir, atau jangan-jangan aku pernah dilecehkan secara seksual oleh seseorang sampai aku trauma? (but that’s another story). Aku ngga pernah tau/inget. Diluar semua keanehan itu, aku normal koq (walaupun “normal” itu kata yang sangat subjektif sekali). Aku terlahir dengan anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan baik, anggota keluargaku juga masih lengkap. Hal-hal yang patut disyukuri, dan bisa dibilang termasuk normal.
            Tapi aku agak terpancing untuk menulis note ini oleh persepsi kita-kita akan deskripsi seorang “Crossdresser”. Dan aku juga terpancing akan deskripsi dari kata “Crossdress” itu sendiri. Pada garis besarnya, persepsi kita (atau setidaknya yg bisa aku simpulkan dari postingan2 dari segala kalangan di media sosial seperti facebook, kaskus, dll.), seorang crossdresser adalah seorang pria atau wanita dengan orientasi seks yang heteroseksual, yang mempunyai hobby memakai/merias diri dengan alat dan busana lawan jenisnya sebagai salah satu bentuk ekspresi diri dalam kecintaan pada fashion yang lintas gender.
            Dan beberapa dari kita yang termasuk “garis keras” akan menentang, mengejek, mencaci, dan bahkan akan menegur orang-orang yang mengaku crossdresser tapi berorientasi homoseksual, biseksual, maupun panseksual untuk ngga memakai nama dengan embel-embel “Crossdresser” di nama akun facebooknya. Atau bahkan melarangnya sama sekali untuk mengaku crossdesser. Kita menyangkal teman-teman kita dengan orientasi seksual seperti itu sebagai sesama crossdresser.
            Well, menurutku (ini menurutku lho yah…), mereka itu juga crossdresser koq. Menurutku lagi, mereka ngga salah kalo mereka mengaku sebagai crossdresser. Dan semua itu aku yakini karena arti kata “Crossdresser” itu sendiri. Kenapa aku meyakini hal itu? Sebenernya kata “Crossdresser” dan “Crossdressing” sendiri itu apa sih? Pernah ngga kalian berpikir bahwa justru kita-kita ini yang ternyata salah kaprah dan salah persepsi tentang kata “Crossdresser” itu sendiri?
Pada dasarnya, Crossdress adalah sebuah kata baru yang terbentuk dari dua kata; “Cross” yang disini berarti menyeberang/melintas/menyilang, dan “Dress” yang berarti busana (bukan yang artinya gaun lho yah). Dalam Bahasa Inggris, imbuhan “-er” yang ditambah dibelakang membuatnya menjadi berarti “pelaku”. Sementara imbuhan “-ing” yang ditambah dibelakang membuatnya menjadi kata kerja; melakukan kegiatan. Jadi secara harafiahnya, Crossdresser berarti “Penyeberang-busana”; orang yang melakukan kegiatan silang-busana, dan Crossdressing berarti kegiatannya itu sendiri; menyeberang dari pakem busana gender orang yang bersangkutan itu sendiri.
Dan menurutku lagi, ada beberapa hal yang menyebabkan seorang Crossdresser (pelaku seberang-busana/silang-busana) melakukan kegiatan silang-busana (Crossdressing). Berikut adalah yang bisa aku simpulkan. Mungkin masih ada lagi yang ngga kepikiran atau kelewat. Mungkin ada yang mau nambahin?
  1. Double/multiple personality

Orang-orang yang termasuk disini adalah orang-orang yang berkepribadian ganda, bahkan lebih. Biasanya, orang-orang yang berkepribadian ganda ngga sadar kalo mereka punya kepribadian lain selain kepribadian intinya. Tapi kepribadian lainnya (alter ego) yang bisa aja lebih dominan daripada kepribadian intinya dan bisa juga merasa bahwa dia berbeda jenis kelamin dengan kepribadian intinya, dan akhirnya melakukan kegiatan crossdressing (walau bagi si alter ego itu justru bukan crossdressing hehehe…)

  1. Character/peran/pekerjaan
Orang-orang yang termasuk disini misalnya pekerja seni peran, baik di layar lebar/layar kaca, maupun diatas panggung sebagai aktor atau aktris dengan tuntutan scenario, misalnya; seperti Dustin Hoffman di film “Tootsie”, atau Glenn Close di film “Albert Nobbs”. Ngga usah jauh-jauh deh. Contohnya Tessy saat dia diatas panggung Srimulat. Atau malah ada yang menciptakan “alter ego” mereka sendiri sebagai salah satu bentuk marketing, seperti penyanyi David Bowie dengan Ziggy Stardust nya yang katanya mahluk luar angkasa, entah ngga ada yang pernah tau dia berjenis kelamin apa…
Ziggy Stardust

  1. Hobby
Mungkin kebanyakan crossdresser yang disebut “normal” masuk dalam kategori ini. Sekali lagi, ini kategori menurutku lho ya… Kebanyakan dari kita sepertinya hanya melakukan silang-busana sebagai hobi yang bersifat kompulsif. Tidak lebih dan tidak kurang. Tapi apa iya? Sepertinya lebih banyak lagi dari kita-kita ini yang masuk kedalam kategori selanjutnya dibawah ini. Ini menurutku lho ya, jangan marah ya? :P

  1. Fetish
Kenapa aku memisahkan Hobby dengan Fetish? Well, karena menurutku para Fetishist berbeda dengan para Hobbyist. Kenapa beda? Okay, bisa aku jelasin. Selain dari para Hobbyist yang udah aku jelasin diatas, banyak dari kita yang sepertinya bisa dibilang sedikit “naik tingkat” menjadi Fetishist. Sebagian besar dari kita mendapat kepuasan tersendiri saat melakukan kegiatan silang-busana ini. Entah kepuasan seksual, seperti masturbasi ataupun melakukan kegiatan seksual lainnya saat keadaan “en femme”. Kepuasan dari jantung berdegup yang keras, tangan dingin dan berkeringat, darah yang terpompa cepat, adrenalin yang berdesir mengalir kencang saat tiap kali outing, atau kepuasan tersendiri saat bisa menjadi trap; trolling ngerjain para lelaki pervert via webcam, dan kepuasan-kepuasan batin lainnya. Menurutku sih itu udah termasuk fetish. Iya ngga sih? Iya kan ya!? Iya dong ya!? Dan akupun harus ngaku, aku kayaqnya masuk di kategori ini :P

  1. Iseng/ikut-ikutan
Dalam pengamatanku, banyak juga yang mulai kegiatan silang-busana ini dari iseng, bahkan ikut-ikutan. Misalnya iseng karena rumah kosong dan liat ada baju/alat makeup nganggur. Teman SMA ku dulu pernah iseng minjem seragam adiknya yang kebetulan sekolah di sekolah swasta terkenal khusus cewe di Jakarta, untuk kostum manggung nge-band di acara pensi sekolahku. Biarpun cuma sebentar, itu menurutku termasuk crossdressing, dan temanku sebagai pelaku kegiatan crossdress tersebut, juga sudah bisa dibilang sebagai seorang “Crossdresser” walaupun dia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. Ada juga yang malahan gara-gara melihat adegan crossdressing di acara TV/film, lalu ikut-ikutan melakukan hal tersebut. Atau ada yang melihat idolanya/orang yang diidolakannya melakukan kegiatan silang-busana, sehingga dia ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Pokoknya yang bersifat impulsif deh, ngga terpikirkan sebelumnya dan ngga dipikirkan saat melakukannya.

  1. Trapped Soul
Yang aku masukkan dikategori ini adalah teman-teman kita para Transexual, dan yang sedang menuju kearah ini. Memang sebagian besar dari mereka merasa bahwa mereka adalah wanita yang terperangkap didalam tubuh yang salah. Apapun pekerjaan mereka, entah di salon, entah penjaja seks, entah yang lainnya, menurutku (menurutku lagi nih) walaupun mereka sudah mempunyai payudara tetapi selama mereka belum melakukan SRS (Sex Reassignment Surgery/operasi ganti kelamin), mereka masih bisa digolongkan Crossdresser. Karena secara teknis, mereka masih termasuk lelaki.

  1. Pelarian
Kategori ini sepertinya agak sedih sih, tapi bisa saja terjadi kan? Misalnya ditinggal kekasih/pasangan hidup/, bahkan bisa saja ditinggal orangtua/anaknya dan merasakan rindu yang amat mendalam. Atau kalau pernah nonton film Alfred Hitchcock yang berjudul “Psycho” justru gara-gara kekerasan rumahtangga yang  membekas hingga menyebabkan si tokoh dalam film ini menjadikan kegiatan crossdressing sebagai pelariannya dari kenangan pahit masa lalu. Tidak melulu terbatas soal pelarian cinta, bisa juga pelarian dari hal lain seperti narkoba, dll. walaupun sangat jarang terjadi (dan sepertinya hanya ada di film aja).

  1. Terpaksa
Kategori inipun lebih menyedihkan lagi… Mungkin cuma kejadian di film atau cerita-cerita karangan, tapi ada aja yang terpaksa menjadi crossdresser. Misalnya keadaan ekonomi yang memaksa seseorang menjadi pelayan di Café Maid walaupun sebenarnya tidak mau (okay, kayaqnya semua pelayan Café Maid ngga ada yang terpaksa deh… aku terlalu delusional -_-), atau mungkin yang lebih parah (dan lebih realistis dari teori Café Maid tadi), terpaksa jadi waria karena himpitan ekonomi. Ada juga yang menjadi crossdresser demi menghindari kejaran orang/hukum seperti Noordin M. Top, teroris terkenal asal Malaysia yang tewas tertembak saat crossdressing menggunakan busana Muslim wanita lengkap dengan cadar untuk menutupi identitasnya. Ada juga yang terpaksa karena diisengin, misalnya dikerjain pas ulangtahun atau didandanin pacarnya atau saudaranya atau kakaknya, dll.

  1. Adat
Beberapa adat suku di Indonesia juga mengharuskan pelaku adatnya untuk melakukan kegiatan silang-busana. Contohnya tradisi para Bissu didalam kehidupan masyarakat Bugis. Atau tradisi di Afrika, (lupa tepatnya dimana) yang mendandani para remaja prianya sebagai wanita lalu mengutus mereka kedalam hutan selama beberapa hari dan akan dianggap sebagai pria sejati setelah menjalani beberapa aturan lainnya keluar dari hutan tersebut.
Well, this is all I can think of, mungkin ada lagi alasan-alasan lain yang aku belum kepikiran, yang temen-temen temuin/alamin? Semua kategori yang aku buat ini diluar apa orientasi seksualnya lho ya, dan aku bikin ini cuma berdasarkan arti kata “Crossdress” secara harafiah. Disini aku ngga ngebelain siapa-siapa koq. Aku cuma bilang kalau temen-temen kita yang orientasi seksualnya berbeda juga harus kita akui keberadaannya. Dan harus kita akui juga kalau mereka tetap termasuk Crossdresser. Di kategori mana mereka berada? Di kategori mana kita berada? Toh yang bisa jawab adalah diri sendiri. Ngga mungkin aku tau temen-temen masing-masing masuk di kategori yang mana.
Banyak sekali teman-teman “crossdresser normal” yang membela diri diluar sana bahwa crossdresser itu harusnya Straight. Well, para bully yang berpikir crossdresser itu sama aja dengan (maaf) “Banci”, “Bencong” dan “Maho” akan tetap berpikiran seperti itu, dan akan terus mem-bully sampai bagaimanapun berbusanya kita membela diri. Lagipula menurutku pembelaan diri kita ngga valid karena kita sendiri adalah pelaku kegiatan ini, dan para bully itu pun akan selalu menggeneralisasi komunitas kita dengan orientasi seksual tertentu. Para bullier itu ngga akan bisa dan ngga akan pernah bisa dilawan karena pelaku silang-busana yang orientasi seksualnya beragam pun akan tetap bermunculan dan mengaku mereka adalah Crossdresser.
Jadi, pada intinya aku menyimpulkan bahwa seseorang adalah Crossdresser saat melakukan kegiatan silang-busana dan menyeberang dari pakem busana gendernya sendiri, apapun orientasi seksual orang yang bersangkutan tersebut. Dan sebenarnya pandanganku ini kurang lebih sudah terangkum dalam keterangan “About” di grup kita tercinta ini. Quote: “Tergantung individu masing-masing, ada yang fokus hanya di fashion saja, ada yang mencoba lebih lanjut ke role playing, sesuai dengan tujannya sendiri-sendiri dari crossdressing itu…”
Sekali lagi, this is all IMHO; In My Humble Opinion. Aku cuma mengategorikan, dan sangat menghindari generalisasi (karena generalisasi itu salah satu kebiasaan orang Indonesia yang sangat berbahaya:P ). Semua ini cuma dirangkum dari opini dan persepsi pribadiku aja koq. Aku bukan peneliti atau pakar dibidang psikologi, psikiatri dan lain-lain. Yang setuju silahkan, dan yang ngga setuju juga silahkan.  Aku juga minta maaf kalo ada yang ngga berkenan, cuma pingin nunjukin persepsi aku aja di dunia kita ini, dan bukan untuk memancing perdebatan koq. J
Okay deh kalo gitu… so, ijin untuk kenalan lagi. Hi, gurls! My name is Joanna. I’m a Crossdresser–for now…
Hmm, kalimat “for now” nya agak ambigu yah… nggapapa lah, toh kita ini makhluk ambigu… atau sekarang sebutan untuk kita “Ambigender” aja? :P

  • Share:

You Might Also Like

0 Comments